Manajemen Pemasaran 2009 : Kita Perlu Softskills
Perkuliahan Manajemen Pemasaran pada Semester ini, akan dimasukkan didalamnya pengembangan softskills bagi mahasiswa. Kita tahu bahwa softskills sangat penting bagi mahasiswa, dan pengembangan softskill bisa dilakukan dimana saja termasuk dalam perkuliahan. Sebagian besar penentu keberhasilan dalam karier dan bisnis adalah aspek ini. Mahasiswa sering lupa atas aspek ini, dan hanya mengejar IPK tinggi, sehingga akan kesulitasn ketika akan memulai pekerjaan, bekerja secara tim, menyesuaikan diri, berbeda pendapat dan sebagainya. Kita akan mengembangan softskills disiplin, percaya diri, dan kerjasama. Mari kita belajar marketing sambil mengembangkaan softskills
Kontrak Pembelajaraan
Panduan Presentasi
Tugas Pemasaran Bank Syariah
Bank syariah adalah usaha perbankan yang memeperkenalkan prinsip islam dalam bisnis perbankan. Dalam perbankaan ini tidak dikenal namanya bunga, seperti halnya bank konvensional. Di banyak negara perbankkan syariah telah menjadi perbankan yang kuat. Di Indonesia perkembangan perbankan syariah masih terbilang kecil, karena peranannya dalam perbankan nasional masih belum tinggi.
Memasarkan jasa bank syariah memerlukan teknik, strategi dan pendekatan yang berbeda dengan perbankan pada umumnya. Agar dapat memasarkan dengan baik, maka pemasar perlu melihat bagaimana pasar sasaran, perilaku mereka dan bagaimana lingkungan. Kebijakan produk, harga, promosi dan destribusi penting untuk dikelala secar integratif.
Tugas Individu Anda saat ini bagi peserta mata kuliah manajemen pemasaran kelas F adalah, carilah publikasi terkait dengan bank syariah baik berupa promosi yang dilakukan yaitu melalui iklan di koran maupun media masa lain, reklame yang dipasang di jalan-jalan, pemberitaan di koran tentang bank syariah, ataupun bahan lain yang terkait dengan perkembangan bank syariah terkini dan atau pemasaran bank syariah yang telah dilakukan. Klipinglah bahan bahan tersebut sekurangnya empat buah, selanjutnya berikanlah ulasan berdasarkan bahan yang Anda dapat, bagaimana seharusnya mereka memasarkan bank syariah.
Kliping. Kliping berita atau segala sesuatu tentang bank syariah dibuat dan ditempel dalam kertas ukuran A4, tidak bolak balik, diberi sampul kertas hvs dituliskan nama dan NIM masing-masing mahasiswa. Pengumpuan kliping juga bisa dilakukan secara digital, melalui CD, dengan memberi nama dan nim pada CD yang dikumpulkan. Pembuatan kliping secara digital sangat direkomendasikan.
Ulasan tentang pemasaran bank syariah atas bahan kliping tersebut diatas dilakukan dalam format ukuran a4, spasi satu, dalam satu lembar, ditulis dan dikirimkan melalui email kealamat email ysutarso@gmail.com, dengan nama file gabungan Nama-NIM-ulasan klopong. Contoh Nama file adalah “hermawan 2007210009 ulasan kliping.doc” . Pengumpulan tugas baik kliping maupun ulasan dilakukan paling lambat saat ujian akhir semester. Yang kurang jelas tentang tugas ini dapat menghubungi dosen pengampu.
Tragedi Pasuruan dan marketing ide “antri”
Beberapa waktu yang lalu kita menyaksikan tragedi pembagian zakat di Pasuruan yang menelan korban 21 orang. Tragedi bermula dari keinginan untuk membagi zakat secara langsung kepada kaum miskin, dan berakhir dengan kerumunan masyarakat yang berharap mendapatkan berkah zakat yang berujung berdesakan, ingin segera mendapat dan oleh karenanya ada yang meninggal karena keinjak-injak antrian. Berbagai ungkapan simpati berdatangan dari tingkatan lokal hingga kepala negara, berita meluas hingga ke manca negara. Ada yang besimpati, lalu ada pula yang mengkritik tentang pembagian zakat. Mengapa dibagi langsung, bukankan ada pihak yang bisa membantu pendistribusian zakat.
Kita bisa saja melihat hal tersebut dari bergai sudut pandang, namun bagi kelas kita, melihat kerumunan sebagaimana dilansir antara dalam situsnya, kita lalu berfikir tentang kebiasaan antri di negari ini. Tidak untuk menyalahkan mereka yang tidak antri dengan tertib pada saat pembagian zakat, antau panitia yang tidak bisa mengatur antrian, namun lebih sebagai sarana untuk belajar dari pengalaman. Bukankan pengalaman adalah guru yang baik.
Antri bagi kita, seringkali belum membudaya dengan baik. Di terminal, di bioskop, atau bahkan di kampus, dijalan raya, kadang budaya ini tidak dijunjung. Masing-masing orang berfikirnya “kalau nggak cepat tidak dapat”, sehingga cepat adalah kunci untuk mendapat. Padahal kadang kita tahu bahwa semua akan dapat, bahkan kalaupun dijamin semua dapat antri juga belum tentu berjalan baik. Memang ada beberapa tempat yang sudah bisa menerapkan antri dengan benar.
Kita perlu memikirkan, bagaimana memasarkan ide tentang budaya antri di tempat kita. Di kampus, diloket atau dimanapun. Agar masyarakat memahami bahwa antri akan membuat semua lancar, semua selamat, adil dan menyenangkan. Dilihat lebih enak dan sepertinya tidak menguras tenaga. Bagaimana agar gaung ide ini bisa masif dan mampu mempersuasi publik, sehingga tingkat awareness, knowledge, liking, preference hingga “buy” atas ide antri ini menjadi mantap. Bukankah kita akan bangga jika bangsa kita terkenal tertib antri.
Pak De Karwo : Marketing dalam Politik
Pasangan Sukarwo dan Gus Ipul adalah pasangan calon Gubernur Jawa Timur bersama pesaingnya Pasangan Kofifah dan Mudjiono, yang masuk dalam putaran Pilkada 2008. Sukarwo adalah calon Gubernur telah mulai me “marketing” kan dirinya sebagai calon Gubernur sudah lama. Sangat nampak usaha dan strategi memenangkan posisi orang nomor di Jawa Timur menggunakan dan memanfaatkan prinsip-prinsip pemasaran. Mulai dengan menggandeng produk kacang goreng dengan merek yang cukup cerdas “Pak De”. Istilah “Pak De”, bagi masyarakat jawa timur adalah istilah yang tidak baru, akrab di telinga dan mudah diucapkan. Istilah ini cukup memenuhi syarat untuk digunakan sebagai merek yang punya konotasi positif. Apalagi dari sisi makna dan persepsi, tokoh pak de bagi masyarakat jawa, adalah bermakna orang yang dihormati, lebih sebagai panutan, dan secara sosiologis adalah anggota keluarga yang dijadikan tempat berkonsultasi. Sehingga lengkap sudah penggunaan kata ”Pak De” sebagai merek cukup cerdas.
Soekarwo juga tahu bahwa “Pak De” saja, tidak cukup membantu kalau orang tidak mengkaitkannya dengan dirinya. Sehingga digunakan istilah “Pak De Karwo”, dimana perjalanan proses pemilihan secara berkelanjutan membuat istilah dan merek baru, misalnya yang terakhir “Karsa”, sebagai kepanjangan dari Soekarwo dan Saifulah Yusuf. Penggunaan istiah “coblos brengose” juga pemikiran yang cerdas mengenai diferensiasi sederhana dalam pemasaran, dimana Soekarwo tahu perbedaan fisik yang jelas antara dirinya dengan pasangan lainnya. Istilah yang terakhir barangkali akan negatif bagi mereka yang tidak suka pria berkumis. Beberapa penggunaan berbagai media dan aktivitas yang dilakukan Pak De, juga menunjukkan bahwa marketing adalah “senjata utama” yang dipergunakan. Pemilihan langsung Gubernur, akan menjadi pembuktian apakah marketing cukup ampuh menjadi “senjata” calon Gubernur. Kita tunggu hasilnya……….
Bagaimana pendapat anda…
MP: Manajemen Pemasaran Kelas F 2008/2009
Mata kuliah ini bertujuan agar mahasiswa dapat memahami dan menjelaskan secara komprehensif berbagai konsep dasar dalam manajemen pemasaran serta bisa mengkaitkan dengan contoh-contoh konkrit dalam praktek manajemen pemasaran. Peserta mata kuliah ini diharapkan untuk mengikuti perkuliahan baik secara offline dan on-line malalu blog ini. Keaktivan dalam mengikuti perkuliahan termasuk dalam mendiskusikan berbagai permasalahan yang diangkat dalam blog ini akan menjadi penting bagi pemahaman materi. Blog ini sebagaimana telah dilakukan sebelumnya adalah sebagai pendukung dalam perkuliahan offline dikelas.
Dengan senang hati perkuliahan mata kuliah ini menggudang para pencinta manajemen pemasaran untuk berdiskusi dan sharing pengalaman dalam menjalankan pemasaran baik dari mahasiswa, akademisi, praktisi ataupun siapa saja.
Untuk peserta aktif berikut disampaikan beberapa ketentuan perkuliahan berikut.
Memasarkan Masjid
Dalam kacamata pemasaran, masjid adalah institusi yang juga menjual produk kepada pelanggan. Pelanggan masjid adalah semua orang yang memanfaatkan tawaran (produk) yang diberikan oleh masjid. Pemasar masjid adalah pengelola (takmir) masjid. Produk yang ditawarkan sebuah masjid bisa berupa tempat beribadah, jasa layanan ibadah atau barang yang dapat diperoleh oleh seseorang dari sebuah masjid. Kualitas pemasaran masjid, jika jamaah bisa puas dan loyal terhadap masjid, yang tercermin dari seberapa banyak dan seberapa sering jamaah memanfaatkan layanan masjid.
Menjual “ tempat” sebagai produk masjid berarti memperbolehkan setiap orang untuk menggunakan masjid sebagai tempat beribadah, baik untuk sholat atau ibadah lainnya. Dalam kaitan ini, masjid dianggap berhasil dalam melakukan pemasaran, manakala banyak orang yang menggunakan dan memanfaatkan masjid sebagai tempat sholat dan beribadah lainnya. Berapa orang yang menjadi makmum dalam setiap sholat jamaah yang dilaksanakan oleh masjid, berapa orang yang mengikuti sholat jum’at setiap hari jum’at, dan sebagainya. Prinsip pemasaran masjid sebagai penyedia “tempat” serupa caranya dengan pemasaran tempat dalam pariwisata. Misalnya bagaimana tempat wisata seperti candi Borobudur, Pulau Bali melakukan pemasaran bisa mendapatkan pengunjung, terutama dalam bagaimana mempromosikan dan bagaimana mengembangkan layanan.
Bagaimana agar “volume penjualan” masjid tinggi ? “Volume penjualan” masjid berarti seberapa banyak orang memanfaatkan masjid untuk memenuhi kebutuhan. Ada beberapa prinsip yang dapat dipergunakan. Pertama, adalah tentang segmentasi pelanggan. Prinsip segmentasi adalah jika sebuah masjid memiliki keterbatasan, lebih baik lebih memberikan layanan segmen tertentu saja, sekalipun masjid tetap memberikan layanan kepada semua orang. Tidak semua orang, dengan karakteristiknya dan beraneka ragam kebutuhannya bisa dilayani oleh sebuah masjid. Pilihan segmennya adalah misalnya apakah mereka yang sedang dalam perjalanan, atau orang yang berdomisili disekitar masjid, atau lebih banyak pelajar, atau karyawan, atau yang lain. Bagaimana menentukan segmen yang dilayani tentu berdasarkan karakteritik masjid sendiri dan pelanggan aktualnya selama ini.
Kedua, jika telah ditentukan segmennya pemosisian masjid juga perlu diberikan. Pemosisian berarti bagaimana masjid menempatkan dirinya dibenak pelanggannya. Apa kesan pelanggan yang kita bangun terkait dengan masjid yang kita pasarkan. Kita tahu, misalnya Istiqlal memiliki slogan “Merajut Kebhinekaan Dunia Islam Indonesia”, sebagai cermin bahwa masjid ini melayani pelanggan yang luas, untuk layanan yang luas pula. Kenapa ini dipilih, bisa jadi karena masjid ini memang besar dan menjadi masjid negara. Atau sebagaimana setiap orang tahu, mobil kijang adalah mobil keluarga, mobil BMW adalah mobil mewah, dan sebagainya. Kita bisa memilih pemosisian masjid ini berdasarkan kekuatan masjid yang kita pasarkan. Semua itu dikomunikasikan kepada pelanggan, dalam berbagai bentuk komunikasi baik lisan, tulisan, dengan media suasana dan sebagainya.
Ketiga, terkait dengan produk yang ditawarkan masjid. Produk masjid bisa berupa tempat, jasa atau barang. Memahami masjid hanya sebagai tempat sepertinya saat ini sudah ketinggalan. Masjid sebagai tempat ibadah, sudah dipahami orang, tapi “masjid sebagai pusat konsultasi misalnya” atau “apapun yang anda butuhkan masjid solusinya”, atau “masjid “x”; bukan hanya tempat ibadah”. Kalau masjid ingin dimanfaatkan orang, jangan hanya jadi tempat, jualah jasa lain dari masjid, sepanjang dalam kerangka masjid. Misalnya kita lihat istiqlal juga memberikan konsultasi, berita, pustaka, silaturahmi, belajar dan sebagainya. Masjid bisa belajar dari pom bensin saat ini, yang dulu dipahami hanya sekedar tempat beli bensin, tapi saat ini sudah tidak lagi. Pom bensin bisa menjadi tempat istirahat, restoran dan layanannya sudah banyak yang baik.
Keempat, Promosi masjid juga menjadi bagian penting dalam kegiatan memasarkan masjid.Promosi masjida dapat dilakukan melalui komunikasi lisan melalui berbagai kesempatan, mendorong komunikasi dari mulut-kemulut, memalui komunikasi tertulis, spanduk, pamflet, brosur, pengumuman, internet dan sebagaimnya. Yang terpenting dalam komunikasi masjid adalah konsistensi dan repetisi. Konsisten terhadap apa yang dikomunikasikan baik komunikasi mengenai misi, orang, nilai-nilai, kegiatan-kegiatan, dan semua dilakukan berulang-ulang. Konsistensi dan repetisi akan meningkatkan kesadaran, meningkatkan pengetahuan, dan meningkatkan ingatan pelanggan terhadap masjid. Kesan dari masjid selain dibangun dengan media suasana, juga banyak dibentuk dari bagaimana masjid berkomunikasi dengan pelanggannya. Jangan sampai masjid hanya menjadi “gadis cantik” tapi bisu, hingga tidak banyak yang mengenalnya.
Kelima, destribusi masjid penting untuk diperhatikan agar ketika pelanggan membutuhkan maka masjid bisa menyediakan. Analoginya bagaimana perusahaan rokok menjamin prinsip ini, dengan cara menjual rokok disetiap jenis penjual, sehingga ketika sesorang membutuhkan rokok, tidak jauh dari tempatnya bisa memperoleh rokok. Pizza hut mendorong distribusinya dengan layanan antar, Mc Donnald dengan layanan beli dengan tetap berkendara dan sebagainya. Sekalipun tidak harus sama, namun bagaimana kreatifitas menyediakan layanan masjid pada saat dibutuhkan dalam waktu, tempat dan jumlah penting untuk dilakukan. (Tulisan ini atas permintaan Winda yang sedang mengelola Masjid di Jakarta)
bIAYA dokter dan hARGA jasa profesi
Sebuah humor berjudul “Biaya Dokter Gratis Teman Sendiri” menceritakan sebuah cerita percakapan yayat dan budi. Ceritanya begini.
Yayat dan Budi berkawan baik sejak dari SD. Pada suatu hari mereka bercakap-cakap tentang cita cita mereka.
Budi: “Eh… Yat nanti kalo kamu udah gede kamu mau jadi apa”
Yayat: “Ohh… kalo sayang pengen jadi Dokter, nah kalo kamu Bud?”
Budi: “Acikkkk kalo kamu jadi dokter biar aku jadi pasiennya aja dech, kan bisa gratis”
Yayat: “Ehh…, tapi aku mau jadi dokter hewan”. (dang)** (www.ketawa.com)
Terlepas dari cerita diatas, profesi dokter, memang banyak dijadikan cita-cita bagi anak-anak. Diantara mereka, ada yang mengatakan bahwa kalau jadi dokter nanti bisa menolong orang sakit, bermanfaat bagi orang lain, banyak pahala. Ada pula yang mengatakan kalau jadi dokter, nanti pasti kaya. keren, dan sebagainya. Singkatnya profesi ini memiliki pesona yang baik. Pesona itu juga tercermin dalam besarnya biaya kuliah jurusan ini.
Cerita tentang dokter juga bisa didapat dari keseharian kita. Misalnya, kita kadang mendapati dokter yang sepi pasien, namun ada pula yang untuk mendapatkan nomor antriannya saja mesti dilakukan jam 3 pagi untuk praktek jam 8. Untuk mendapat layanannya masuknya lima orang lima orang.
Cerita lain yang tak kalah heboh adalah tentang biaya dokter. Ketika kita dari dokter dan mendapat layannya, lalu mendapati biaya yang tidak rendah, sekalipun kadang pada dokter yang lain ada yang rendah. Lalu kita dalam hati bilang, “wah enak benar jadi dokter, gitu saja dapat segini”. Salah satu tentang biaya dokter dapat dibaca dalam konsultasi kesehatan di Kompas yang bisa didownload di sini
Bicara tarif dokter, dalam marketing, kita tahu hal tersebut adalah terkait dengan kebijkan harga. Harga dalam kaitan dengan profesi dokter adalah tarif. Kita tahu bahwa pertimbangan dalam menentukan harga adalah ada dari faktor internal dan ekternal. Tarif dokter juga pasti mempertimbangkan strategi harga.
Untuk Anda mahasiswa manajemen pemasaran kelas F, coba gambarkan apa pertimbangan dalam menetapkan tarif dalam jasa dokter, dan lihatlah disekeliling Anda, para dokter menggunakan strategei apa.
Selamat bekerja…..
Ujian dan Nyontek
Ujian baik tengah semester atau akhir semester adalah bagian dari proses belajar terstruktur dalam pendidikan di kampus. Dalam kesempatan tersebut kepada mahasiswa diberikan soal untuk dijawab sesuai dengan kemampuan masing-masing. Diharapkan dari ujian ini akan terlihat siapa yang lebih tahu dan lebih mampu, siapa yang kurang dan siapa yang tidak tahu diantara peserta kuliah.
Ada diantara mahasiswa yang dengan sungguh-sungguh bekerja dan belajar keras serta secara jujur menjawab, namun ada pula yang sebaliknya. Bagi mereka yang kategori pertama, ujian adalah ujian bagi dirinya, sementara yang terakhir ujian hanyalah mencari nilai.
Nyontek kadang masih banyak yang melakukan. Padahal banyak yang memberikan sikap negatif kepada mereka yang nyontek. Misalnya “nyontek sama dengan korupsi hingga dengan tegas kami haramkan. Kalau ada siswa yang mencontek langsung dikeluarkan tanpa surat peringatan terlebih dulu. Siswa harus belajar untuk mendapatkan nilai dengan cara halal bukan haram seperti nyontek,” tegas Ketua Yayasan Pendidikan Al-Ma’soem, H. Nanang Iskandar Ma’soem, SE, MS, (Pikiran Rakyat 20 maret 2004). Ada pula yang menyatakan nyontek berarti membantu orang tua jadi boleh, yah macam-macam..
Pilihan memang ada pada masing-masing orang, mau jujur atau mau nyontek. Kesemuanya memberikan akibat masing-masing.
Kepada peserta manajemen pemasaran, mudah-mudahan tidak tergoda nyontek. Di Kampus kita sudah jelas hukumnya, kalau ketahuan nyontek pasti tidak lulus.
Untuk manajemen pemasaran dalam rangka ujian, mohon lihat email masing-masing.
Selamat bekerja.
mp: Lebaran dan Perilaku Belanja “Emas”
Image atau pencitraan atas merek adalah bagian penting dalam kegiatan pemasaran. Coca-cola dengan pencitraannya telah menjadi perusahaan minuman cola dunia, BMW dengan segala citra yang diciptakan menjadi penghasil mobil terkenal. Pencitraan juga menjadi bagian penting dalam perilaku konsumen di Indonesia. Citra diri, dalam bentuk usaha agar kelihatan modern, kelihatan cantik, kelihatan pintar dan sebagainya adalah bagian dari usaha pencitraan dari konsumen. Budaya pencitraan kadang bisa berlangsung sedemikian akut, sehingga citra diri orang ditumbuhkan dan dipertahankan dengan sangat mahal. Ibu-ibu rela belanja tas atau sepatu yang harganya puluhan juta, sekedar mencari citra, adalah contoh kecilnya.
Lebaran, oleh sebagian orang, juga menjadi kesempatan membangun citra. Sehingga waktu-waktu lebaran adalah masa dimana konsumsi produk sedemikian masif, yang salah satunya untuk membangun citra. Dalam hiruk pikuk konsumsi tersebut muncul produk turunan dalam budaya pencitraan, yaitu munculnya produk-produk substitusi baik yang imitasi maupun aspal. Sebagai contoh adalah produk emas imitasi, nampak seperti emas namun bukan emas. Kasus rielnya dapat didownload disini. Kita bisa menebak, pembeli produk ini adalah mereka yang ingin mendapat pencitraan tertentu.
Dari uraian diatas, kita tahu bahwa motivasi pembelian “emas” seperti kasus diatas sangat dipengaruhi oleh karakteritik pembeli. Menurut anda, seperti apakah karakteristik konsumen pembeli utama “emas” tersebut. Kalau Anda pemasar, bagaimana memasarkan produk kepada mereka.
Untuk peserta mata kuliah manajemen pemasaran kelas F, selamat Idoel Fitri, mohon maaf lahir batin. Mudah-mudahan kita bukan termasuk orang-orang yang merugi…
Selamat belajar







