Y u d i S u t a r s o

Kuliah Manajemen Pemasaran

Tragedi Pasuruan dan marketing ide “antri”

pic from www.antara.co.id

Beberapa waktu yang lalu kita menyaksikan tragedi pembagian zakat di Pasuruan yang menelan korban 21 orang. Tragedi bermula dari keinginan untuk membagi zakat secara langsung kepada kaum miskin, dan berakhir dengan kerumunan masyarakat yang berharap mendapatkan berkah zakat yang berujung berdesakan, ingin segera mendapat dan oleh karenanya ada yang meninggal karena keinjak-injak antrian. Berbagai ungkapan simpati berdatangan dari tingkatan lokal hingga kepala negara, berita meluas hingga ke manca negara. Ada yang besimpati, lalu ada pula yang mengkritik tentang pembagian zakat. Mengapa dibagi langsung, bukankan ada pihak yang bisa membantu pendistribusian zakat.

Kita bisa saja melihat hal tersebut dari bergai sudut pandang, namun bagi kelas kita, melihat kerumunan sebagaimana dilansir antara dalam situsnya, kita lalu berfikir tentang kebiasaan antri di negari ini. Tidak untuk menyalahkan mereka yang tidak antri dengan tertib pada saat pembagian zakat, antau panitia yang tidak bisa mengatur antrian, namun lebih sebagai sarana untuk belajar dari pengalaman. Bukankan pengalaman adalah guru yang baik.

Antri bagi kita, seringkali belum membudaya dengan baik. Di terminal, di bioskop, atau bahkan di kampus, dijalan raya, kadang budaya ini tidak dijunjung. Masing-masing orang berfikirnya “kalau nggak cepat tidak dapat”, sehingga cepat adalah kunci untuk mendapat. Padahal kadang kita tahu bahwa semua akan dapat, bahkan kalaupun dijamin semua dapat antri juga belum tentu berjalan baik. Memang ada beberapa tempat yang sudah bisa menerapkan antri dengan benar.

Kita perlu memikirkan, bagaimana memasarkan ide tentang budaya antri di tempat kita. Di kampus, diloket atau dimanapun. Agar masyarakat memahami bahwa antri akan membuat semua lancar, semua selamat, adil dan menyenangkan. Dilihat lebih enak dan sepertinya tidak menguras tenaga. Bagaimana agar gaung ide ini bisa masif dan mampu mempersuasi publik, sehingga tingkat awareness, knowledge, liking, preference hingga “buy” atas ide antri ini menjadi mantap. Bukankah kita akan bangga jika bangsa kita terkenal tertib antri.

September 23, 2008 - Posted by | Manajemen Pemasaran

56 Comments »

  1. menurut saya, dalam mengembangkan sebuah tradisi yang disebut dengan “antri”, harus dimulai dari pribadi masing-masing. knowledge tentang antri harus dibudayakan kepada masyarakat dengan mencontoh pada kehidupan kita masing-masing. dari situ, kita dapat mengetahui bahwa knowledge tentang kebudayaan “antri” dapat benar-benar melekat pada masyarakat ramai. selain itu, dari pengalaman demi pengalaman yang terjadi selama ini tentang keburukan masyarakat kita terhadap budaya “antri”, kita harus memikirkan dampak ke depan terhadap cerminan yang ada pada masyarakat kita

    Comment by M. Ferdian Rahma S. (2007.310.015) | September 23, 2008 | Reply

  2. Melihat kejadian diatas miris sekali rasanya. Ini dikarenakan kurangnya kesadaran rakyat (peserta zakat) dalam menerapkan budaya antri demi ketertiban. Namun, disisi lain amil zakat tidak memperhatikan kondisi mereka dengan jumlah yang luar biasa sangat banyak. Seharusnya pendistribusian bisa dimanage sedemikian rupa tanpa harus menimbulkan berbagai kejadian yang tidak diinginkan. Bisa kita lihat kejadian di Pasuruan,tidak sedikit korban yang meninggal akibat berdesak-desakkan hanya untuk mendapatkan hak mereka. Seharusnya dari pendistribusian zakat bisa lebih dikendalikan, agar zakat tersebut juga bisa tersalurkan dengan baik kepada masing-masing orang yang berhak menerimanya. Mereka seharusnya bisa lebih merealisasikan sistem pembagian zakat, misalnya pembagian kupon pengambilan zakat dengan menggunakan alokasi waktu dan tempat yang berbeda. Tentunya dilandasi dengan budaya antri juga agar semuanya bisa berjalan dengan baik dan lancar.

    Comment by Kartika Triana Putri (2007310083) | September 23, 2008 | Reply

  3. Menurut saya, budaya antre adalah salah satu budaya bangsa Indonesia yang seharusnya sudah lama berkembang. namun, dalam permasalahan ini, tidak semuanya disalahkan dari pihak masyarakat yang antre. pihak pembagi zakat (Amil) harusnya lebih mengetahui berapa banyak warga yang akan menerima zakat. sehingga dalam pendistribusiannya dapat direncanakan akan menggunakan sistem apa ang lebih tepat bagi mereka. dengan keadaan yang demikian, menurut saya akan lebih tepat menggunakan sistem di antaranya, mendata nama-nama mereka yang berhak mendapatkan zakat. kemudian mendatangi rumah-rumah mereka oleh mereka yang sudah diberi tugas untuk mengantar zakat tersebut. Atau memberikan kupon pengambilan zakat dengan jam dan hari yang berbeda karena melihat sedemikian banyaknya warga yang berhak mendapatkan zakat. Dengan demikian, akan lebih bisa ditertibkan lagi sehingga tidak sampai menimbulkan korban.

    Comment by Anike Wulan Sari (2007310100) | September 23, 2008 | Reply

  4. ass……
    Dari kasus pembagian zakat yang menelan korban hingga 21 orang, kita bisa tau dan mengerti seberapa penting budaya antri itu. dalam kasus ini, dimana sebagian dari korban atau para kaum dhuafa yang akan menerima pembagian zakat tidak menghiraukan atau bisa jadi mereka tidak tau tentang seberapa pentingnya mengantri. hal ini menjadi tanggung jawab kita semua untuk bersama-sama memarketingkan budaya antri di lingkungan kita, misalnya kita membiasakan budaya antri di lingkunga yang lebih kecil duluu yaitu keluarga. tetapi dalam lingkungan yang lebih luas seperti yang terjadi di pasuruan kita bisa memberi masing-masing kupon terlebih dahulu, dimana kupon tersebut di bagi menjadi 3 sesi pengambilan zakat yaitu pagi, siang, sore. dan lebih memasarkan budaya antri pada setiap acara-acara atau event-event yang melibatkan banyak orang. yaitu dengan cara memberi contoh langsung dalam mengantri atau bisa juga memberi contoh kasus ini, yaitu apabila kita tidak membiasakan budaya mengantri akan terjadi hal-hal yang tidak diingainkan seperti di pasuruan

    Comment by grefita sari | September 23, 2008 | Reply

  5. Ass…..Pak !!
    Melihat dari kejadian diatas saya turut prihatin dengan keadaan tersebut,apalagi saya termasuk warga kabupaten Pasuruan.Kejadian tersebut menunjukan bahwa kurangnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya budaya antri, mungkin budaya tersebut dilihat hanya dengan kaca mata sebelah oleh warga masyarakat, terutama dalam kasus tersebut warga masyarakat Pasuruan.Budaya antri tersebut harus kita mulai dari hal yang terkecil seperti contoh yang di paparkan diatas.
    Dan bukan hanya itu, suatu budaya atau kebiasaan dapat dimulai dengan meniru atau melihat.
    Oleh karena itu untuk memasarkan BUdaya Antri dalam masyarakat kita, dalam hal itu membutuhkan media baik itu dari campur tanggan pemerintah ataupu pihak lain untuk menciptakan budaya tersebut.
    Memasarkan budaya tersebut dapat dilakukan dengan
    Penyuluhan-penyuluhan kegiatan yang menbutuhkan budaya antri
    tapi semua itu kembali dari Pribadi masyarakat itu sendiri

    Comment by Rina Nur Fadilah(2007310179) | September 23, 2008 | Reply

  6. 1.menurut saya,,dalam hal ini tidak dad yang disalahkan apalagi menyalahkan pihak panitia zakat.memang pada dasarnya banyak yang berkomentar bahwa panita kurang koordinasi,,tapi bagi saya,tidak cukup hanya koordinasi bagian panitia saja..melainkan masyarakatnya pun harus sadar diri aakan pentingnya budaya antri.tidak adil jika pihak penyelenggara sebagai otak dari kejadian tersebut,,pihak penyelaenggara saja tidak mengetaahui akan terjadi antrian yang membeludak..
    2.kemudian seharusnya kalau memang budaya antri seperti itu bukan jalan yang terbaik,,lebih baik panitia memberikan zakat pada masing-masing keluarga dengan mendatangi keluarga tersebut..
    sehingga pada dasarnya kejadian ini bisa jadi perbaaikan bagi pihak2 yang akan menyelengarakan hal serupa ataupun masyarakatnya sendiri.

    Comment by januarti retno hartiningtyas | September 23, 2008 | Reply

  7. menurut saya, ini terjadi karena adanya kesalahan 2 pihak, yaitu antara pihak yang mengantri dan pihak yang mengamalkan zakat. yang pertama, adanya pihak yang mengantri..dari dulu hingga sekarang,indonesia tidak berkembang dengan adanya situasi mengangtri.karena disebabkan ingin maunya sendiri,lalu banyak orang yang disekitarnya menjadi korban. seperti kejadian di atas,bisa kita lihat bahwa korban banyak berjatuhan karena saling berdesakan.dan ada pula yang sampai mati karenanya. sedangkan dipihak yang memberi zakat, mereka tidak memikirkan akibatnya. jadi saran saya,sebaiknya pemberian zakat itu dilakukan dengan cara datang kermh masing2 warga yang tidak mampu.agar para warga tidak berebut dengan zakat yang diberikan.

    Comment by ina sariwati | September 23, 2008 | Reply

  8. Ass.Wr.Wb.
    saya turut prihatin atas tragedi yang terjadi di pasuruan. kejadian tersebut sangat lumrah terjadi,mengingat warga indonesia memang banyak yang tidak mampu. ini adalah kesalahan dari panitia penyelenggara yang memberikan zakat. mereka tidak memikirkan akibatnya, sementara warga yang tidak mampu menjadi korban. banyak yang sekarat maupun meninggal dunia. seharusnya, pihak yang memberi zakat harus melihat dulu jumlah warga yang akan diberi zakat. dengan begitu tidak akan terjadi perebutan zakat dan tidak ada korban. misal dengan memberikannya ksetiap rumah warga yang tidak mampu agar warga tidak berebut atau dengan cara memberikan keamanan yang ketat pada warga waktu mengantri pemberian zakat.
    Wassalammualaikum.Wr.Wb

    Comment by bagus septiyono | September 23, 2008 | Reply

  9. Menurut saya, jika ide antri itu merupakan produk dari kita, maka sebagi produsen, kita harus mengambil beberapa langkah seperti di bawah ini:
    1. kita harus meningkatkan kesadaran (awareness) masyarakat akan budaya antri. Contohnya mungkin seperti yang telah dilakukan oleh pemerintah beberapa waktu lalu dengan pemasaran melalui iklan di TV.Dalam tahap awareness ini, konsumen sudah sadar akan produk kita, yaitu budaya antri, namun masih memiliki sedikit informasi mengenai budaya antri itu sendiri. Selain itu, kita juga dapat meningkatkan interest masyarakat.
    2. Kita dapat mengadakan pelatihan-pelatihan mengenai budaya antri, yaitu dengan menjabarkan keuntungan-keuntungan yang mereka dapat jika mengimplementasikan budaya antri ini dalam kehidupan sehari-hariMenurut saya, jika ide antri itu merupakan produk dari kita, maka sebagi produsen, kita harus mengambil beberapa langkah seperti di bawah ini:
    1. kita harus meningkatkan kesadaran (awareness) masyarakat akan budaya antri. Contohnya mungkin seperti yang telah dilakukan oleh pemerintah beberapa waktu lalu dengan pemasaran melalui iklan di TV.Dalam tahap awareness ini, konsumen sudah sadar akan produk kita, yaitu budaya antri, namun masih memiliki sedikit informasi mengenai budaya antri itu sendiri. Selain itu, kita juga dapat meningkatkan interest masyarakat.
    2. Kita dapat mengadakan pelatihan-pelatihan mengenai budaya antri, yaitu dengan menjabarkan keuntungan-keuntungan yang mereka dapat jika mengimplementasikan budaya antri ini dalam kehidupan sehari-hari. Kita juga dapat memberi contoh mengenai akibat-akibat dari budaya ‘menyerobot’, seperti tragedi di pasuruan misalnya.
    3. Setelah masyarakat (pasar) mengetahui benefit yang didapat, kita harus membuat mereka menjadikan budaya itu sebagai keinginan (liking). Dengan demikian pasar menjadi menyukai budaya antri.
    4. Budaya antri harus kita buat menjadi sutu kebutuhan, sehingga pasar menjdi lebih menyukai (preference) budaya antri dibandingkan harus saling menyerobot satu sama lain.
    5. Setelah konsumen mengtahui semua spesifikasi produk kita dengan keungulan-keunggulannya, mereka akan mengevaluasinya dan konsumen akan membeli ( buy ) produk kita dengan mengimplementasikan budaya antri dalam realitas.

    Comment by Laurensia T | September 23, 2008 | Reply

  10. Ass.WR.WB

    saya turut prihatin dan sedih tentunya atas tragedi ini, kejadian yang tidak diinginkan terjadi tapi terjadi. Hal ini disebabkan kurangnya kesadaran budaya antri dalam masyarakat kita, jadi untuk mencegah kejadian ini terulang kembali yang pertama, masyarakat harus sadar akan pentingnya antri tidak hanya antri dalam zakat tapi antri dalam hal apapun.
    kedua, pemberi zakat harus memikirkan cara dalam pembagian zakat seperti memberi kupon dengan waktu pengambilan yang berbeda, memberi batas antri agar teratur, bila perlu diberi tempat duduk agar nyaman dan tidak berdesakan.
    sehingga niat yang baik diakhiri dengan hasil yang baik pula

    Wass.WR.WB

    Comment by verouzia k imanniar | September 23, 2008 | Reply

  11. menurut saya budaya antri sangatlah penting dalam kehidupan. Dengan adanya antre, akan tercipta suatu keteraturan dan kenyamanan. Dalam kasus yang terjadi di atas dapat kita tarik kesimpulan. Antre masih dipandang remeh di Indonesia, terutama bagi kalangan rakyat menengah ke bawah yang kurang terpelajar. Ternyata, hanya dengan mengabaikan antre, 21 nyawa melayang sia-sia. Kalau perlu, panitia mengiming-imingi tambahan jumlah zakat yang akan diberikan kepada orang yang bersedia antre dengan baik dan tidak saling serobot. Di sisi lain, hendaknya panitia dengan tegas mengingatkan para penerima zakat yang tidak disiplin dalam mengantre..

    Comment by Fellayati. R | September 24, 2008 | Reply

  12. menurut pandangan pasar tentang budaya antri yang mungkin lebih baik daripada tidak antri, mungkin menurut saya cocok untuk diterapkan apalagi di negara indonesia ini. mungkin dengan budaya antri tersebut akan membawa dampak yang baik bagi perkembangan negara dan warga negara, misalnya : tertib, aman, teratur, dll.

    tapi apalah arti budaya antri diterapkan jika seperti yang terjadi di pasuruan. sikap serobot dan siapa cepat masih menjadi ciri khas negara kenamaan seperti indonesia ini. ditambah lagi dengan pembagian zakat yang mungkin masih “urakan”.

    apalah arti mendapat zakat apabila kita tak bisa menikmati dan nyawa yang menjadi taruhannya. mungkin ini pelajaran bagi para pemberi zakat untuk lebih mengkoordinasikan terlebih dulu dengan amil zakat. bukankah zakat ada yang mengurusi ???? lalu apa guna amil zakat bila zakat diserahkan langsung ke yang membutuhkan ????

    mungkin baik para pemberi zakat langsung memberi zakat ke yang membutuhkan, tapi kalau terjadi kejadian seperti itu “APA ARTI ZAKAT” itu ???? biarpun niat kita baik tapi kalau metode yang kita gunakan buruk, maka sebaik apapun niat kita pasti akan buruk juga.

    mungkin masyarakat perlu adanya kesadaran (awareness) akan budaya antri. mungkin dengan kesadaran itu masyarakat (pasar) akan menyukai dan memiliki keinginan (liking). mungkin antri harus dijadikan kebutuhan dasar agar masyarakat (pasar) menyukai (preference) budaya antri.

    jika mereka tahu kegunaan (usefulness) tentang suatu produk yang benar-benar aman bagi mereka, seperti misal “antri” mungkin lambat laun pasar akan membuka celah untuk membeli (buy) produk yang kita tawarkan kepada mereka.

    Comment by firdian puspa wardhana | September 24, 2008 | Reply

  13. Memasarkan ide tentang budaya antri ternyata bukanlah hal yang mudah. Tragedi di Pasuruan baru-baru ini contohnya.
    Jika kita lihat pada kebiasaan masyarakat di negeri ini, budaya antri masih sulit untuk mereka terapkan. Memasarkan budaya antri hapir sama dengan merubah kebiasaan masyarakat.
    Jadi jika ingin memasarkan budaya antri kepada masyarakat, perlu diadakan sosialisasi melalui media-media informasi.
    Dalam memasarkannya,perlu kita sisipkan manfaat-manfaat positif guna memotivasi masyarakat agar antri. Tak lupa, dampak-dampak buruknya juga agar masyarakat menghindari kebiasaan buruk mereka. Dan pastinya perlu diadakan penyuluhan kesadaran dari diri masyarakat sendiri akan budaya antri serta membuat peraturan dalam setiap kegiatan yang seharusnya dilakukan dengan antri.

    Comment by Angga Raditya | September 24, 2008 | Reply

  14. Menurut saya, masyarakat Indonesia masih banyak yang kurang sadar akan budaya antri.padahal dengan budaya antri kita akan merasakan rasa tertib dan aman.sehingga tidak menyebabkan hal-hal yang tidak diinginkan seperti pembagian zakat di Pasuruan.Tetapi dalam memasarkan budaya antri, tidak semudah yang dibayangkan. Butuh kesadaran dari diri sendiri dan Sebaiknya budaya antri ditanamkan sejak kecil.

    Comment by Ardis norma | September 24, 2008 | Reply

  15. asS,,

    MENGAGETKAN!!!
    Memang sangat tragis “Tragedi Pasuruan” ini,banyak masyarakat yang tidak menyangka berawal dari pembagian zakat, banyak nyawa hilang dengan sia-sia. Masyarakat pun banyak yang menduga pasti pemasaran zakat itu ada kejanggalannya. Penyebabnya pun beragam, mulai dari ketidakpercayaan pemberi zakat kepada badan penyalur zakat sampai keinginan pemberi zakat untuk bisa dilihat orang lain. Sebenarnya apapun kegiatan untuk mendapatkan suatu barang yang diinginkan itu butuh proses, salah satunya adalah “antri”. Masyarakat Indonesia pun sebenarnya banyak yang tidak tahu kegunaan antri itu sendiri. Bahkan Indonesia pun sudah terkenal dengan budaya “serobot” untuk memperoleh yang diinginkan dengan waktu yang singkat. Tapi. sebenarnya kebiasaan seperti membuat “sesat”. Mungkin dalam memasarkan budaya “antri” sendiri memerlukan banyak upaya diantaranya : meningkatkan kesadaran(awareness) masyarakat terlebih dahulu untuk mau “antri”, adanya pengetahuan tambahan tentang dampak posotif “antri” itu apa saja, setelah itu masyarakat akan menyukai(liking) hal itu, dan jika mereka sudah mengetahui manfaat(usefulness) “antri” maka mereka akan berfikir untuk menggunakan atau membeli(buy)sesuatu yang mereka inginkan.

    HIDUP ANTRI!!!!
    BIAR LAMBAT ASAL SELAMAT!!!

    Comment by Bettina Ema P.R. | September 24, 2008 | Reply

  16. antre lah di loket…

    budaya anter memang sudah sedikit sekali kita temui di Indonesia, apalagi kita tahu bahwa orang-orang di Indonesia ini dikenal dengan orang yang tidak mudah bersabar,,
    atau ada yang bilang “siapa cepat dia dapat”…

    seperti tragedi yang di contohkan di atas, saya turut prihatin, karena menelan sampai 21 korban,,,
    kita tak dapat menyalahkan siapa-siapa, hal ini terjadi karena kurang sadarnya masyarakat tentang budaya antre,,,
    begitu juga penyalur zakat (amil) kurang dapat menghandle yang terjadi, seharusnya pendistribusian dilakukan secara tertib…

    Menurut saya, dalam memasarkan budaya antre di Indonesia cukup sulit, namun kita bisa memulainya dengan introspeksi diri sendiri, apakah kita sendiri juga sudah tertib dalam mengantre, setelah itu kita toreh ke orang lain, kita beritahu, misalnya pada waktu anter di tempat umum, kemudian peran pemerintah juga sangat penting, yakni memberikan himbauan kepada masyarakat tentang dampak-dampak yang akan terjadi apabila kita tidak antre, apalagi setelah kejadian antre tersebut…

    sekian, terima kasih…

    Budayakan Antre…!!!!!!!!!!!!!

    Comment by Frieda Ayu Dianita A. (2007310564) | September 24, 2008 | Reply

  17. Assalamualaikum wr.wb.
    Dalam konteks ini bukan masalah antri yang akan saya bahas melainkan masalah persiapan dari pihak penyelenggara. Dalam kegiatan diatas kita ketahui bahwa 100% adalah kegiatan amal dalam rangka menyejahterakan rakyat yang kurang mampu agar mendapat keringanan di bulan ramadhan ini, namun justru niat baik itu berakhir dengan memilukan. Menurut saya, apabila pihak penyelenggara memang berniat untuk membagikan sedekah kepada masyarakat yang kurang mampu maka jangan menunjukkan jam (waktu) acara secara detail, cukup dengan memberitahu hari apa acara tersebut dilakukan sehingga tidak akan terjadi penumpukan masa yang begitu hebat apabila jam acara di tunjukkan secara detail. Tentunya disini pihak penyelenggara dituntut lebih siaga dalam melayani konsumen atau stand by 24 jam untuk acara ini, sehingga menurut saya hal ini akan dapat meminimalisir dampak kerusuhan atau kecelakaan yang akan terjadi…
    Sekian dari saya, terima kasih…

    Comment by Hermawan Tri Ramadhan | September 24, 2008 | Reply

  18. ass.

    menurut saya,, budaya antri di Indonesia kurang mengental dan di budidayakan,, setiap ada yg antri pasti ada sajah orang2 yang nyerobot seenakna,, padahal bnyk sekali manfaat dari budaya antri itu sendiri ,, kita tidak perlu takut untuk diserobot ,,
    kejadian kemarin di Pasuruan justru kebalikannya ,, mereka merasa kalau antri bakal lama dan mereka takut kehabisan,, makannya mereka rela berdesak2an seperti itu tanpa berpikir lagi mana yang tetangga dan saudara ,,
    ada berbagai macam cara untuk membwd ide antri menjdi lebih mantab :
    1. awareness : indonesia krg menyadari betapa pntngnya budaya antri ,,sehingga perlu diberikan pengarahan dlm mengantri ,,
    2. knowledge : stlh kita sadar betapa pentingnya budaya antri maka selanjutnya kita dpt memberikan pengetahuan tentang seberapa manfaatnya budaya antri,,
    3.liking : dengan kita menyadari dan mendpt pengetahuan maka kita akan memiliki keinginan untuk berubah,,
    4.preference : dengan perubahan tuu maka kita dapat melihat mna yg lebih d sukai orang2,, berbudaya antri atau tetap menyerobot,,
    5.buy : segalanya akan berjln dg tertib dan nyaman apabila kita semua menjlnkn budaya antri,,

    sekian,,
    wassalam,,

    Comment by Intan Kartikasari Putri | September 24, 2008 | Reply

  19. Ass…
    Antri??? Bukan kata yang asing ditelinga kita mengingat Warga kita yang kurang berdiplin Antri.
    Melihat kasus yang terjadi di Pasuruan, sebenarnya tidak ada yang patut dipersalahkan. Tidak dari pihak panitia pembagi zakat, tidak juga dari pihak peserta penerima zakat.
    Perbaikan yang perlu dilakukan saat ini adalah bagaimana menumbuhkan sikap tertib Antri di Warga kita.
    Aspek – aspek yang perlu kita perhatikan sebenarnya adalah pertama bagaimana kita membuat awareness warga akan pentingnya budaya antri menjdi semakin besar. dengan penyuluhan2 atau praktek kecil-kecilan terkait dengan antri.
    Kemudian Knowledge warga tentang budaya antri juga harus ditingkatkan melalui pendidikan nonformal seperti penyuluhan dan pemberian materi tentang seberapa penting budaya antri harus dilaksanakan.
    Setelah itu baru akan muncul liking dari warga untuk mengimplementasikan budaya antri itu dalam kehidupan sehari-harinya.
    jika liking telah muncul dalam diri warga, baru preference akan ditentukan oleh warga itu sendiri. Apakah dia mampu untuk meng-Antri disitu atau malah akan menyengsarakannya?
    setelah wargamenentukan preferencenya, baru akan menumbuhkan niat untuk “buy” seuatu yang dia antri tersebut.

    sekian dari saya, maaf apabila terlalu banyak kalimat yang terlalu memaksa.
    Kesempurnaan hanya milik Allah, kesalahan milik kita Manusia.
    Terima kasih

    Comment by Eko Achmad Rizali | September 24, 2008 | Reply

  20. assalamualaikum wr.wb

    memarketingkan budaya antri memang sedikit susah.karena berhubungan dengan suatu kondisi dan kebiasaan pribadi masing-masing orang.terkadang untuk membuat suatu pasar menyadari perlunya antri itu sangat susah. karena kita memerlukan pemahaman terhadap kondisi pasar itu sendiri. sebelum melakukan pemasaran yang baik, terlebih dahulu kita lihat histories market kita,bagaimana budaya yang terbentuk dalam mind set pasar dan behaviour nya. kita juga lihat tingkat SDM nya. perlu kita pertanyakan apakah orang-orang yang tidak suka mengantri itu merupakan orang yang berpendidikan?
    kita lihat juga sisi socialnya. apakah yang mendasari mereka dapat begitu meratanya keinginan untuk mendapatkan zakat. sisi ekonomi pasar dan kalo perlu hingga ke sisi religi pasar itu sendiri. pada kenyataanya,riset mendapatkan hasil yang kurang menggairahkan jika kebanyakan pasar kita adalah low economy people.paling tinggi semi medium economy people. dan sama sekali tidak ditunjang dengan tingakat SDM yang tinggi. Ini akan menjadi sulit untuk penetrasi pasar dalam memarketingkan budaya antri. tapi masih ada harapan. bangsa kita adalah bangsa yang selalu folowwer market. dengan pencontohan para petinggi/ pejabat yang turun langsung memberikan contoh dalam kehidupan sehari-hari akan lebih mudah diterima masyarakat. Media pun juga menjadi boomber bagi kita untuk membuat masyarakat kita realize akan pentingnya antri. dan jika diperlukan buat UU wajib antri. Sebab kebiasaan buruk bangsa kita adalah Kita patuh karena takut dihukum.bukan menjadikan Hukumsebagai kepatuhan yang harus disadari.

    masih banyak yang dapat dibahas dan dikembangkan dalam konteks permasalahan ini, kurang lebihnya mohon maaf ,

    wassalamualaikum WR.WB

    Selamat Idul Fitri 1429 H.
    Mohon maaf lahir batin

    Comment by satria | September 24, 2008 | Reply

  21. ass,,

    menurut saya tingkat kesadaran masyarakat Indonesia terhadap budaya antri sangatlah tipis,,,

    hal ini dapat dilihat di berbagai tempat yang dimana sangat sedikit sekali orang yang sadar akan hal itu,,

    Sebaiknya masyarakat kita, harus sadar akan pentingnya budaya antri, ,

    selain itu, , sesama manusia seharusnya saling bekerjasama untuk meningkatkan kesadaran budaya antri . .
    misalnya jika ada sekelompok orang yang bergerombol untuk mengambil sesuatu, , sebaiknya ada orang yang mengingatkan supaya mengantri secara rapi. . dan meyakinkan kepada mereka bahwa kita semua akan mendapatkan barang tersebut tanpa terkecuali..

    Dengan hal budaya antri, , kita dapat memperoleh hikmah, , selain enak dipandang/dilihat, , dengan budaya antri juga tidak akan memakan korban jiwa seperti yang terjadi di pasuruan baru-baru ini . . .

    sekian dari saya
    thnx. .

    Wass,,,

    Comment by nendy pramita shinta | September 25, 2008 | Reply

  22. assalammualaikum wr. wb

    sungguh tidak saya duga, berniat untuk beramal dan membantu fakir miskin malah memakan korban.. ini di tunjukkan dari masyarakat (pasar) yang kurang adanya kesadaran (awarnes) untuk “antri”.. semua ingin menang sendiri.. seharusnya masyarakat kita perlu pengetahuan (knowledge) tentang budaya antri, dan manfaat (usefulnes)agar selamat dalam mengantri apapun.. selain itu pihak penyelenggara harus memikirkan matang-matang sebelum membagikan zakat.. harus tahu kapasitas amil(penerima zakat)dan lahan yang disediakan. kalau tidak mencukupi kapasitas masyarakat(pasar)mending dilakukan dua atau tiga hari dalam pembagian zakat, agar tidak terlalu berdesak-desakan sampai terinjak dan memakan korban.. sungguh disayangkan !!

    wassalamualaikum wr. wb.

    Comment by Lidia Setia Santi | September 25, 2008 | Reply

  23. asS ….
    dengan adanya kejadian yang terjadi di pasuruan, akan dapat dijadikan pelajaran bahwa ketertiban sangat penting diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
    untuk mewujudkan ketertiban dalam masyarakat, perlu dikerahkan petugas ketertiban disetiap aspek-aspek yang rawan akan pelanggaran, budaya antri juga perlu disosialisasikan lewat media cetak maupun media elektronik, agar tercapai kesuksesan seperti program KB. selain hal tersebut diatas perlu adanya kesadaran dari masyarakat indonesia sendiri untuk menjaga ketertiban dan mempraktekan budaya antri.
    wass…

    Comment by Miftakhul Jannah | September 25, 2008 | Reply

  24. assalamualaikum…

    Sungguh sangat mengagetkan dan mencengang kita semua jika mengingat kejadian pembagian zakat di Pasuruan itu. yang semula berniat ingin mendapatkan zakat, justru tak terealisasi.
    Event pembagian zakat ini mengundang banyak masyarakat yang ingin mendapatkan zakat tersebut. karena takut kehabisan,maka mereka berdesak-desakan dan berebut.
    budaya antri memang sangat jarang sekali kita temui, di Indonesia terutama.
    Untuk menumbuhkan semangat “antri”,saran saya adalah:
    1. masih banyak masyarakat indonesia yang krg menyadari betapa pntngnya budaya antri ,,sehingga perlu diberikan pengarahan dlm mengantri (awareness)…
    2. stlh kita sadar bahwa betapa penting budaya antri, maka selanjutnya kita dpt memberikan pengetahuan tentang seberapa manfaatnya budaya antri (knowledge)…
    3.dengan timbulnya dan setelah mendpt pengetahuan, maka kita akan memiliki “rasa ingin” berubah (liking)…
    4. dengan perubahan itulah,kita dapat melihat mana yg lebih d sukai orang2,berbudaya antri atau tetap membudidayakan berebut dan menyerobot (preference)…
    5.semua akan berjalan dengan aman, tertib, dan nyaman apabila kita semua menjalankan budaya antri di Indonesia tercinta kita ini (preference)…

    Tapi,sumber yang paling penting untuk melaksanakan antri adalah niat dalam diri kita. kalau kita ingin berubah jadi lebih baik, maka kita pasti akan mendapatkan timal balik yang baik pula…

    Comment by rahma gaty | September 25, 2008 | Reply

  25. Selamat siang Pak

    melihat tragedi yang terjadi di pasuruan membuat saya pribadi sangat prihatin dengan kejadian seperti itu.
    menurut pendapat saya prbadi itu dikarenakan kurangnya kesadaran masyarakat akan budaya antri, hal ini disebabkan karena kurangnya rasa menghargai (awardness),knowledge, dan rasa memiliki budaya tersebut.

    disini saya berpendapat bahwa kita senua harus bisa membiasakan budaya antri dari diri kita sendiri, selanjutnya kita tularkan kepada orang disekeliling kita
    mungkin pesan yang tepat untuk mempromosikan budaya antri adalah

    ” ANTRI ADALAH NAFAS KITA ”

    sekian pendapat saya terima kasih

    Comment by Febrianto A. (2007310566) | September 26, 2008 | Reply

  26. setelah tragadi pembagian zakat di pasuruan kita menyadari bahwa pentingnya sebuah sistem pengantrian. kelihatannya mengantri itu sepele, tetapi jika terus diabaikan akan berbahaya dan dapat merenggut nyawa seseorang.
    budaya antri di Indonesia sampai saat ini sangat susah sekali diterapkan.
    jika di lihat dari tragedi yang terjadi, menurut saya kurang perhatiannya sistem pengantrian dari haji sakon yang sampai menyebabkan timbulnya korban jiwa.
    untuk mengakhiri kejadian tersebut kita harus membudayakan budaya antri. hanya dengan cara itulah agar korban2 tidak berjatuhan lagi.

    Comment by Fathony P.S | September 26, 2008 | Reply

  27. Assalamualaikum…
    Setelah saya amati dari tragedi di pasuruan tersebut, saya hanya bisa mengambil 2 kesimpulan,yaitu kurangnya kebijakan dan kurangnya budaya antri.
    Kurangnya kebijakan disini maksudnya adalah para pembagi zakat kurang bijak dalam mendistribusikan zakat sehingga pendistribusiannya tidak merata ke tangan warga. Seharusnya pembagi zakat punya konsep&implementasi yang baik dalam mekanisme distribusi yang adil&merata,mungkin dengan cara zakat dibagi langsung ke rumah warga atau mungkin dibuat jadwal shift antri.
    Kurangnya budaya antri disini maksudnya adalah miskinnya budaya antri yg melingkup di masyarakat. Masyarakat kurang punya kesadaran diri akan pentingnya budaya antri,misalnya dalam tragedi di pasuruan yang menimbulkan banyak nyawa yg melayang. Apakah nyawa dihargai sebegitu murahnya, hingga banyak orang yang tidak peduli akan keselamatan nyawanya sendiri dan lebih mementingkan berebut antrian. Warga harus disadarkan dari pengalaman buruk tersebut agar tidak terulang kembali. Oleh karena itu, masyarakat butuh knowledge untuk dilatih budaya antri dari sekarang, mungkin dengan cara diberi penyuluhan. Dari keadaan yang tidak tau menjadi tau tersebut maka akan ada perubahan yang positif di lingkungan masyarakat.
    Sekian dari pendapat saya.
    Terima kasih…

    Comment by Dwi yuli handayani | September 26, 2008 | Reply

  28. Ass..
    Mendengar kabar tentang kejadian d pasuruan tsb sungguh sangad d sesalkan karena kurangnya kesadaran rakyat indoNesia dengan ‘antri’ sampai menelan korban..
    Tidak dapat d salahkan juga,ibu-ibu yg mengantri untuk mendapatkan uang yg hanya 30ribu,dgn kondisi perekoNomian mereka,besar harapan mereka pada uang 30rb tsb..
    Harusnya panitia zakat lebih siap dalam pembagian zakat untuk mengantisipasi membludaknya massa atau merubah sistemNya menjadi panita yg mendatangi siapa2 yg berhak mendapatkan zakat tsb..
    Dengan kejadian ini,harusnya sosialisasi tentang budaya antri harus lebih di tingkatkan,dengan membuat iklan di TV dan semua media cetak,agar kejadian-kejadian tsb tidak akan terulang kembali..

    Comment by Shieva hanum | September 27, 2008 | Reply

  29. antir merupakan budaya yang tidak dapat dilakasanakan di Indonesia..dimana setiap konsumen mengharapkan yang terdepan dari orng lain. untuk menerapkan agar konsumen mau antri setiap organisasi harus menerapkn prinsip marketing dimana pencapaian tujuan organisasi tergantung pada knowledge akan suatau kebutuhan dan keinginan target pasar dan memberikan kepuasan yang diinginkan dengan lebih baik dari pad pesaing. jadi agar setiap konsumen mau antri sebaiknya adanya suatu keuntungan dari apa yang telah dikorbankan konsumen sehingga ia mau antri seperti kualitas yang terbaik akan kebutuhan yang diharapkn atau dengan cara memberikan souvenir2 kecil yang dapat membuat konsumen sabar menunggu.

    Comment by susi friska | September 27, 2008 | Reply

  30. Assalammualaikum wr. wb.

    Dalam konteks permasalahan ini merupakan suatu permasalahan yang dimana begitu pentingnya mengantri itu. Dengan adanya tragedi Pasuruan, yang menelan 21 korban tewas karena terjepit-jepit dalam antrian zakat. saya pribadi sangat prihatin dengan kejadian seperti itu. Menurut pendapat saya, kurangnya kesadaran masyarakat dalam budaya mengantri dan kurangnya persiapan dari pihak penyelenggara.
    Kelihatannya mengantri itu sepele bagi kita semua. Namun hal tersebut perlu kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Bahwa ketertiban sangatlah penting diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Budaya antri bisa kita terapkan pada diri kita sendiri dan kemudian kita tularkan pada orang-orang yang disekitar kita. Agar tidak ada lagi korban-korban yang berjatuhan.
    Sekian dari saya, Terima kasih…

    Wassalamualaikum Wr. Wb.

    Comment by Aditya Widiyanto | September 27, 2008 | Reply

  31. assalammualaikum…..
    saya turut berduka cita atas kejadian di Pasuruan beberapa waktu yang lalu.
    Hal tersebut tidak akan terjadi jika masyarakat kita masih memiliki kesadaran yang tinggi akan pentingnya budaya antri.
    Menurut saya, memang sulit pada saat ini mengajak masyarakat untuk mengantri.
    Oleh karena itu, sebaiknya pemerintah membuat UU untuk antri.
    Sanksi nya pun juga harus benar-benar ditegakkan agar tidak ada lagi kejadian seperti di Pasuruan.
    Selanjutnya, Pihak Pemerintah sebaiknya melakukan sosialisasi tentang UU antri beserta sanksi dari UU tsb dan juga manfaat dari antri itu sendiri
    Kerjasama semua pihak sangat dibutuhkan dalam kesuksesan berbudaya antri ini.
    Sekian dari saya… Terima kasih….

    Comment by astri hestiningtyas | September 28, 2008 | Reply

  32. assaLamuaikum,,Pak..

    Saya sungguh prihatin atas kejadian kejadian pembagian zakat di kabupaten pasuruan. Sungguhlah miris bila diperhatikan. Hal ini menunjukkan cerminan bangsa indonesia yang masih belum bisa menerapkan budaya antri. “Awareness dan knowledge” dari masyarakat yang telibat bisa dikatakan masih kurang. Walaupun dimana-mana sudah terpampang peringatan “Harap Antri”. Menurut saya budaya ini akan dapat berjalan apabila setiap individu mau menyadari bahwa budaya antri sangat perlu diterapkan dimana saja, sehingga tidak merugikan semua kalangan, seperti yang kita ketahui bahwa kejadian ini memakan 21 korban meninggal.
    Selain itu juga,,seharusnya pemerintah me”marketing”kan ide antri kepada semua warga dengan membuat iklan via media massa baik cetak maupun elektronik, seperti yang dilakukan pemerintah dengan iklan pajak.

    sekian comment dari saya.

    Selamat Idul fitri 1429 H kepada pak yudi dan keluarga
    Minal aidin wal faidzin
    Mohon maaf lahir batin

    Terima kasih

    wassalamuailkum,,Wr.Wb

    Comment by Aini Andhonowarih W | September 29, 2008 | Reply

  33. assalamu’alaikum…

    Zakat semestinya mampu mengurangi permasalahan kemiskinan di negara ini,, tapi koq malah menjadi bencana??? Banyak hal yang perlu dicermati dari pendistribusian zakat tsb. Salah satunya, penertiban antrian…

    1. Awareness…
    Selama ini,, saya rasa “antri” yang mereka kenal hanyalah sebagai slogan belaka. Karena, spot spot untuk mereka berantri pun kurang nyaman untuk digunakan mengantre. Pemerintah bisa menggunakan iklan layanan masyarakat di televisi, seperti iklan untuk menggunakan helm untuk pengguna sepeda motor. Hal yang saya cermati, sebetulnya ada iklan sponsor rokok yang sedikit menggambarkan bagaimana menderitanya jika tidak antri. Saya pikir, itu bisa lebih digembar-gemborkan lagi.

    2. Knowledge & Liking…
    Menumbuhkan pengetahuan serta prakteknya,, dapat dicontoh dari, Program “Responsible Riding” yang saat ini sedang dilaksanakan oleh kerjasama antara Jawa Pos dan Honda. Dalam hal program kampanye mengantre ini, pemerintah kota dapat bekerja sama dengan media serta tempat-tempat yang menggunakan antrian, sehingga timbul niat customer untuk antri, walaupun sebagian dari mereka mungkin hanya ingin masuk koran atau hanya ingin mendapatkan bonus dari sponsor,,, but it’s worth to try.

    3. Buy
    Tanamlah kebiasaan dan tunailah budaya…
    Jalankanlah kampanye mengantre sesering mungkin,,, dan lihatlah hasilnya.

    Cahaya Ekaputri mengucapkan
    Minal Aidzin wal Faidzin
    Mohon Maaf Lahir dan Batin

    Comment by Cahaya Ekaputri (2007310180) | September 29, 2008 | Reply

  34. Musibah yang terjadi di Pasuruan memang sangat memprihatinkan.Awalnya mau untung malah jadi buntung.Demi uang 30 ribu nyawa taruhannya.Hal itu semoga bisa dijadikan pelajaran yang berharga untuk dl masa yang akan datang agar tiadak terjadi hal seperti itu lagi.
    Di dalam musibah tersebi\ut masalah yang sangat signifikan adalah “Antri”.Seandainya mereka bisa antri, pasti semua akan untung mendapatkan bagiannya.
    Di Indonesia memang sangat memprihatinkan dengan masalah antri.Oleh karena itu agar tidak menyusul hal-hal yang miris tersebut terjadi, mulai saat ini kita harus memasarkan pentingnya antrian pada adik-adik kita agar mereka tahu akan pentingnya antri.Selain pada adik-adik kita,keluarga dan masyarakat umum juga harus tahu akan hal itu.
    Hal itu bisa dilakukan dengan memperkenalkan gambar Itik yang bisa dengan tertib berbaris rapi yang ditempel pada tempat-tempat yang seharusnya dilaksdanakan budaya tersebut.
    Dengan tulisan ” Masa Kita Kalah Sama Itik “, selain pengetahuan (knowledge)kesadaran (awareness) juga penting untuk menanamkan betapa pentingnya antri.Berdasarkan dari knowledge dan awareness masyarakat pasti akan suka (liking) dan membuat mereka lebih suka (preference) antri daripada menyerobot tidak jelas.Dan pada akhirnya mereka pada tertarik untuk memiliki (buy).
    Terima kasih……

    Comment by Santy Haris Y | September 29, 2008 | Reply

  35. Ass,

    Saya turut prihatin dengan tragedi yang menimpa masyarakat di Pasuruan. Hanya karena ingin mendapatkan zakat sebesar Rp 30.000,- seorang anak harus rela kehilangan ibunya yang meninggal karena terinjak-injak dan kehabisan nafas saat mengantri zakat. Tragedi tersebut terjadi karena masyarakat tidak mau mengantri. Maklumlah, seperti kita ketahui budaya antri di Indonesia masih sangat kurang. Lalu bagaimana membiasakan budaya antri pada masyarakat Indonesia? Karena tragedi yang sama tidak hanya terjadi di Pasuruan, tapi juga di daerah lain seperti Mataram.
    Antri sangat berhubungan dengan disiplin dan keteraturan. Di negara-negara yang maju, antri sepertinya sudah menyatu dengan kehidupan warganya. Intinya memang disiplin, disiplin pada diri sendiri dan juga toleransi terhadap orang lain.
    Antri juga berhubungan dengan motto jalan pintas. Mottonya adalah “kalau bisa dengan jalan pintas (menyerobot) mengapa harus antri ?” Orang memang terbiasa untuk mencari jalan pintas atas suatu masalah, tapi tidak semua masalah harus dicari jalan pintasnya. Antri memang bukan jalan pintas dan mungkin karena itu antri bukan tingkah laku yang harus dilakukan.
    Bagaimana membudayakan antri ?
    Bisa dengan cara “peringatan dini” seperti menempel tulisan “Dimohon untuk Antri“, atau dengan memasang “anjing pengawas” dengan menempatkan petugas keamanan berwajah seram di semua tempat yang berpotensi mengantri. Tapi ini cuma model stimulus-respons saja alias behaviorism banget.
    Cara yang paling manjur menurut saya adalah model Pendidikan. Apakah “pelajaran” tentang mengantri diajarkan mulai dari tingkat pendidikan dasar ? Saya rasa tidak. Pelajaran tentang DISIPLIN dan turunan-turunannya bukan cuma soal mengajarkan apa itu disiplin, apa definisinya, apa jenis-jenisnya, sembari melupakan bahwa yang terpenting adalah CONTOH dari TINGKAH LAKU DISIPLIN itu sendiri.
    Jadi, kalau mau membudayakan antri, maka budaya DISIPLIN harus ditanamkan terlebih dahulu. Dan itu harus tertanam secara dalam dan mengakar.
    Kalau soal disiplin, saya cuma bisa mengelus dada melihat bangsa ini. Contoh gampangnya, silakan anda menjadi pengawas tingkah laku berlalu-lintas manusia Indonesia dan anda akan mendapati “hukum aneh” yang berlaku disana.
    Membudidayakan antri berarti menjadikan suatu tingkah laku bernama antri beranak pinak dan menghasilkan sesuatu yang jelas menguntungkan. Dan sebetulnya mengantri itu menguntungkan, setidaknya menguntungkan diri sendiri karena kita menjadi disiplin.
    Penerusan dari generasi ke generasi itulah yang menjadi inti dari budi daya antri. Orangtua mengajarkan kepada anaknya, dan begitu seterusnya. Sehingga antri bukan lagi seperti alien yang tiba-tiba muncul dari planet lain di alam semesta ini.

    Sekian, terima kasih!
    Wass,

    Kepada Pak Yudi Sekeluarga
    Saya mengucapakan,
    Selamat Idul Fitri 1429H
    Minal Aidzin wal Faidzin
    Mohon Maaf Lahir dan Batin

    Comment by Evi Emilia Wati | September 29, 2008 | Reply

  36. ass
    menarik sekali tema blog kali ini telah 1 semester lebih q nanti pak
    membudidayakan dan memasarkan antri agar bisa masif dan mampu mempersuasi publik, sehingga tingkat awareness, knowledge, liking, preference hingga “buy” atas ide dapat kita atasi mulai diri kita sendiri hingga kita menganalisa segmen pasar/ tempat, orang, tingkat kebutuhan, waktu, untuk dapat menempatkan buadaya antri ini kedalam kemasan yang pas. sehingga marketing dapat kita laksanain sebaik mungkin bahkan dengan seminimal mungkin.
    misal kita lihat kondisi pasar tradisional tentu saja sulit sekali kita membudidayakan antri dibandingkan dengan pasar swalayan yang modern. tentu kita harus menempatkan diri kita ketika menjadi konsumen waktu itu, kita dapat membudidayakan : menghias kata semenarik mungkin di barang dagangan dengan gambar yang bersangkutan sehingga selain konsumen membeli tapi juga melihat dan membaca. dengan kata lain perencanaan yang matang dapat mempengaruhi
    terima kasih pak
    minal aidzin wal fa idzin
    mohon maah lahir dan batin
    selamat hari raya idul fitri 1429 H

    Comment by sup-ri | September 30, 2008 | Reply

  37. asslm..
    budaya antri di Indonesia memang blum terlaksana dgn baik, untuk itu diperlukan ide dalam mengatasi hal tersebut.menurut saya perlu koordinasi dengan pihak keamanan dan memberikan nomer antrean kpd pelanggan yang datng, atau membuat tulisan di dpn antrean, misalnya ” antri adalah ibadah ”
    trima ksh itu yg dpt saya tulis dr inspirasi stlh membaca tema tersebut

    Comment by danny iskandar a. | September 30, 2008 | Reply

  38. Assalamualaikum…

    Sebelumnya Saya ucapkan kepada Bapak Yudi sekeluarga:
    Selamat Idul Fitri 1429H Minal Aidzin wal faidzin Mohon Maaf lahir dan batin…
    0-0 ya Pak…???
    hehehe..

    Puasa tahun ini sangat berbeda dengan puasa tahun lalu. yang membuat berbeda adalah ternodanya bulan Ramadhan akibat pembagian zakat yang merenggut 21 korban jiwa karena ingin mendapatkan uang hanya 30rb saja. Dan juga kurangnya koordinasi antar panitia sehingga korban berjatuhan.
    disini menunjukkan bahwa disiplin di bangsa kita masih minim.
    Dengan ini kita bisa mengambil pelajaran bahwa kedepannya disiplin budaya antri bisa ditekankan agar pembagian zakat tahun depan tidak merenggut korban lagi.

    Sekian, Terima kasih

    Wassalamualaikum. . .

    Comment by Bayyinah Irodah | October 3, 2008 | Reply

  39. Ass
    sebelumnya saya mengucapkan selamat hari raya idul fitri, mohon maaf lahir dan bathin.

    menurut saya, sebenarnya antri, itu harus ditanamkan pada diri kita masing-masing. tapi kalo seperti kejadian diatas yaaa, g mungkin bisa. karena yang lain juga tidak ada yang antri, lah kalau kita sendiri yang antri, kita pasti rugi nantinya takut g kebagian atau males nunggu lama-lama, yang lain g antri kenapa kita harus antri.
    hal diatas mungkin dari awal udah salah, mungkin dari panitianya yang kurang persiapan atau panitianya memang teledor atau bisa juga masyarakatnya yang memang susah diatur.
    menurut saya, agar antri budaya antri dapat ditingkatkan lagi, maka kita perlu untuk menampilkan slogan-slogan atau kejadian seperti diatas di daerah antrian. sehingga masyarakat tidak menganggap sepele mengenai antri. tentunya juga dengan dukungan dari panitia untuk memanage peserta antrian.
    sekian terima kasih

    wassalamualaikum wr wb

    Comment by Faris Fashihul Lisan | October 4, 2008 | Reply

  40. assalamu`alaikum..

    mumpung masih dalam suasana lebaran, saya menyampaikan
    ” selamat hari raya idul fitri 1429 H ”
    taqobalallahuminna waminkum…
    mohon maaf lahir hingga bathin ya pak!!

    dari tragedi di pada pembagian zakat di atas, sebenarnya penyebabnya sepele, yaitu “tidak mau tertib dalam antrian zakat” yang akhirnya terjadi kerusuhan dan menimbulkan korban jiwa..
    sebenarnya hal trsebut dapat dihindari jika kita mau menerapkan budaya antri dalam diri kita, akan tetapi sepertinya sulit bagi bangsa ini.

    kita tidak bisa langsung merubah sifat malas antri yang teratanam di moral bangsa ini, akan tetapi kita bisa memulainya dari tingkatan anak-anak usia balita untuk belajar berbudaya antri, dengan cara itu budaya antri akan tertanam dengan baik..

    cara lain untuk memasrkan kebiasaan budaya antri adalah dengan mengatur setiap antrian dengan memberi sanksi jika menyerobot atau tidak tertib dalam antrian di loket, kasir dan sebagainya..
    dengan begitu masyarakat akan lebih memilih berantri dari pada diberi hukuman..

    hukuman nya tidak harus bersangkutan dengan pihak kepolisian, akan tetapi cukup dengan memberikan pinalti urutan antrian di urutan paling akhir..

    demikian sedikit masukan dari saya..
    kurang lebihnya mohon maaf..

    wassalmualaikum..

    Comment by firdaus arvidian purnomo | October 4, 2008 | Reply

  41. setelah saya membaca artikel bapak dan memperhatikan situasi pada kenyataan… saya berpikir, sebenarnya masyarakat indonesia telah mengetahui arti dari antre itu sendiri dan telah menerapkan pada kehidupan sehari – hari…

    Namun pada kondisi dimana kita mengantre untuk memenuhi kebutuhan kita yang menurut kita penting , maka kita akan melakukan apapun untuk bisa mendapatkanya, meskipun kita harus mengambil resiko yang tidak kecil…

    maka menurut saya :
    1. jika kita sebagai pemberi kubutuhan itu, janganlah memperlihatkan berapa banyak kebutuhan itu karena tentu akan mengundang rasa cemas,takut, dan bingung jika mereka melihat bahwa stock dari kebutuhan mereka menipis ketika mereka berada pada antrian yang mungkin jauh dari pembagian/pemberian kebutuhan tersebut, yang akan membuat mereka melakukan hal yang diluar kendali…
    2. Memberikan penyuluhan secara kontinyu untuk dapat mengantri hingga akhir tanpa melakukan tindakan diluar kendali.

    Mungkin sebagai awal kita dapat melakukan ini, karena tidak mudah merubah “mind set” orang yang telah melekat pada dirinya, walau dapat dirubah namun membutuhkan waktu yang tidak sebentar.

    minal aidin walfaidin, mohon maaf lahir dan batin……

    Comment by mustaqim harianto | October 4, 2008 | Reply

  42. Ass,,,
    menurut saya, tragedi yang terjadi di pasuruan tersebut terjadi karena kurangnya kebijakan dari panitia pembagi zakat dan kesadaran masyarakat akan budaya antri, hal ini disebabkan karena kurangnya rasa menghargai,knowledge, dan rasa memiliki budaya tersebut.

    Dalam memasarkan budaya antri di Indonesia tidaklah mudah, namun kita dapat memulainya dengan cara introspeksi diri, apakah kita sendiri juga sudah tertib dalam mengantri, setelah itu kita toreh ke orang lain, kita beritahu, misalnya pada waktu antri di tempat umum. Kemudian peran pemerintah juga sangat penting, yakni memberikan himbauan kepada masyarakat tentang dampak-dampak yang akan terjadi apabila kita tidak antri

    sekian,,,terima kasih

    minal aidin walfaizin mohon maaf lahir dan batin,,,,

    wassalamualaikum

    Comment by Nailit Taufiqi | October 4, 2008 | Reply

  43. aSS,…
    menurut saya,,
    “antri”, bukan lagi hal tabu bagi semua kalangan masyarakat.
    Namun, bila dihubungkan dengan budaya antri dalam kondisi sekarang ini, maka budaya tersebut telah menjadi sesuatu yang langka,.
    Banyak orang yang tidak menggunakan etika berbudaya antri di tempat-tempat umum. Budaya yang merupakan wujud hasil cipta dan karya manusia yang bersifat keindahan peradaban tidak lagi dilestarikan bahkan telah dilupakan oleh masyarakat terlebih budaya mengantri. ketidaksabaran dan keegoisan menjadi salah satu faktor mengapa masyarakat sekarang tidak lagi menjadi masyarakat yang menerapkan budaya antri di dalam dirinya.,
    Padahal budaya antri merupakan tolak ukur kedisiplinan seseorang. Saat ini, penggalangan untuk menjadikan masyarakat berbudaya antri telah banyak dilakukan banyak pihak. Apalagi melihat kondisi masyarakat yang tidak mentaati lagi tata tertib.
    Upaya ini dilakukan banyak pihak agar budaya antri bisa kembali menjadi hal yang tidak langka lagi di kalangan masyarakat kita..

    waSS,.,

    moHon maaf Lahir bAtin ya Pak!!

    Comment by tiNO seTiaWan | October 5, 2008 | Reply

  44. aSs.
    sebelumnya saya mengucapkan selamat hari raya idul fitri , minal aidzin wal faidzin , mohon maaf lahir dan batin .

    menurut saya , dgn adanya tragedi di pasuruan pd bulan ramadhan yang lalu , dapat kita jadikan pelajaran bahwa akan pentingnya budaya antri . yang didasari kurangya kesadaran tiap individu akan budaya antri . untuk mewujudkan budaya tsb dlm masyarakat menurut saya , harus adanya kerjasama dari pihak yang bersangkutan , sanksi2 yang diberikan apabila melanggar , dan adanya kesadaran dalam diri tiap individunya untuk mempraktekan budaya antri tsb.

    Sekian , terima Kasih .

    Comment by Zahra , 2007.310.516 | October 5, 2008 | Reply

  45. Ass.wr.wb

    Menurut saya…
    Di dalm memsarkn budaya antri hrs memiliki knowledge mengenai apa antri itu sendri….
    Antri sgt erat kaitannya dgn kedisiplinan seseorg yang di mulai sejak dini untuk memahami indah budaya antri…
    Oleh karena itu, dlm memasarkan budaya antri terutama di Indonesia ini msh di rasa sgt kurang sehingga perlu adanya cara yang menarik untuk mengajak semua orang membudayakan antri dengan baik,. strategi itu bisa dengan menempelkan poster yang berisikan ” budaya antri memperindah persaudaraan “, pembatas antrian, petugas, serta alat pengambilan kartu antrian yang nantinya akan tertampil dlm sebuah layar dll…
    Biaya sebisa mungkin dialokasikan dengan baik untuk kenyamanan selama proses antri, karena mengingat memaSarkan budaya antri tercakup dlm semua segmentasi yang mem-positioning-kan antri sebgai perilaku yang bijak…
    . . .Sekian. . .

    Minal aidzin wal faidzin
    Mohon maaf lahir dan batin..
    -Ranny Famz-

    Comment by Ranny Restuwardhani 2007310360 | October 5, 2008 | Reply

  46. ass.

    menurut saya tragedi yang menimpa kaum dhuafa di Pasuruan tersebut adalah kesalahan masyarakat itu sendiri karena nggak ada akibat kalau ada nggak sebab???.
    untuk itu mulai sekarang kita tertibkan budaya antri dengan cara:
    1.mulai dari kita sendiri.
    2.menanamkan jiwa budaya antri kepada masyarakat luas
    dengan cara memperbanyak slogan yang berisi tentang
    budaya antri
    baik di jalan raya, sekolah,lapangan, terminal maupun
    toilet
    sekalipun.
    3.mengajak pemerintah untuk menyukseskan ide tersebut
    karena peran utama pemerintah amat menentukan
    diperlukan demi kelancaran ide tersebut.

    Buat bapak yudi sutaro” minal aidzin wal faidzin, Mohon maaph Lahir Batin”.

    Comment by jokoo setiawaaaan | October 6, 2008 | Reply

  47. Assalamualikum,,,,,,,,,,,,,,,,

    Menurut saya pembagian zakat dipasuruan itu sudah sangat bagus karena masih ada yang memperhatikan orang-orang miskin yang ada, namun acara yang diselenggarakan tersebut tidak sesuai dengan yang diharapkan, sehingga terjadi kesalahan-kesalahan yang tidak diinginkan, dan musibah yang menimpa masyarakat yang ada dipasuruan itu adalah kesalahan dari masyarakat dan panitia yang menyelenggarakan acara tersebut, akan tetapi dalam hal seperti ini tidak penting siapa yang salah siapa yang benar, yang terpenting adalah kesadaran dari diri kita sendiri bagaimana antri yang baik agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan. Oleh karena itu kita harus menerapkan budaya antri yang baik, dan budaya antri yang baik adalah: kesadaran dari diri kita sendiri bagaimana antri yang baik walaupun apa yang kita inginkan itu agak lama didapat, tapi kita harus bersabar untuk mnegantri yang baik, panitia atau pihak-pihak yang menyelenggarakan suatu acara harus sering-sering memantau masyarakat yang mengikutinya, dan senantiasa mengingatkan tentang cara-cara antri yang baik bagi yang lupa, tapi budaya antri ini bukan hanya diterapkan dalam suatu acara atau kegiatan yang direncanakan, tapi dimana saja kita berada kita harus membiasakan diri tentang budaya antri yang baik. Dan yang paling terpenting adalah pemerintah juga mendukung tentang ide budaya antri tersebut agar ide tersebut bukan hanya sekedar ide tapi ide tersebut dapat terealisasi dengan baik. Oleh karena itu apabila kita menerapkan apa yang tercantum diatas tadi maka saya yakin kita akan terhindar dari hal-hal yang akan merugikan diri kita dan juga orang lain, dan apa yang kita inginkan akan tercapai dengan baik…..AMIEN

    Sekian pendapat dari saya. Terima Kasih!!!!!

    Minal aidzin wal faidzin
    Mohon maaf lahir dan batin..

    Comment by Jilfa Ishak | October 6, 2008 | Reply

  48. ass………..

    dari isi artikel yang telah saya baca,saya mempunyai beberapa pendapat agar negara kita menjadi negara yang “tertib antri”:
    a. kita harus mempunyai kesadaran (awareness)masing-masing individu itu sendiri.sehingga dengan begitu rasa antri dapat dinikmati oleh individu itu sendiri keuntungan-keuntungan yang diperoleh serta diadakan pelatihan untuk meningkatkan budaya “mengantri”.
    b.dengan cara begitu masyarakat(pasar) mengetahui manfaat yang dapat mereka.maka dengan begitu mereka akan menjadikan budaya “mengantri” sebagai keinginan (liking).
    c. individu harus menjadikan budaya mengantri adalah suatu kebutuhan dan menjadikan pasar menggemari/menyukai (preference) dibanding dengan prinsip “lebih cepat pasti akan dapat” alias “menyerobot”.
    d.setelah mengetahui konsumen akan membeli (buy)produk dengan cara mengantri dalam kehidupan sehari-hari.

    wass………..

    Comment by mariyah ulfah (2006310163) | October 6, 2008 | Reply

  49. mengembangkan budaya antri tidak lah mudah. dimana setiap konsumen menginginkan yang pertama dari konsumen lainnya.
    menurut saya untuk mengembangkan budya antri itu adalah melalui individu itu sendir, tentunya konsumen yang memiliki knowledge. jika konsumen mempunyai itu maka akan timbul kesadaran dari konsumen.
    selain itu bisa juga memberikan sovenir kepada konsumen yang mau antri. dengan begitu setiap konsumen mungkin mau sabar untuk memperoleh sesuatu yang dibutuhkan. dimana adanya keuntungan dari pengorbanan yang dibrikan konsumen yaitu mau antri dan m’ngorbankan time.

    Comment by susi friska ( 2007310570 ) | October 6, 2008 | Reply

  50. Sudah kita ketahui bahwa Indonesia mengenal tentang adanya budaya antri, tapi sampai sekarang belum ada praktek yang disebabkan karena kurangnya kesadaran dari diri sendiri. Dengan contoh konkrit tragedi Pasuruan yang terjadi karena budaya antri itu di Indonesia belum terealisasi dengan baik.
    Untuk mengantisipasi agar tragedi tersebut tidak terjadi lagi,maka mulai sekarang kita harus membiasakan diri untuk membudayakan antri dalam setiap hal.
    hal-hal yang bisa kita lakukan untuk membiasakan diri berbudaya antri dalah diperlukan adanya pengetahuan(knowledge),kesadaran(awereness)sehingga membuat konsumen pasar liking akan adanya budaya tersebut dan konsumen memiliki ketertarikan untuk membeli(buy)produk yang kita pasarkan yaitu”ANTRI”.

    minal aidzin wal faidzin
    mohon maaf lahir dan batin
    selamat hari raya idul fitri 1429 H

    Comment by Wahyu Astri M. | October 6, 2008 | Reply

  51. ass,
    Cara yang baik untuk memarketingkan suatu budaya antri sangatlah gampang-gampang susah apalagi untuk menerapkannya di Indonesia.Yang dinamakan dengan budaya itu sangat kental dengan suatu kaedaan dan sebuah kebiasaan setiap pribadi orang masing-masing.Apalagi dalam membuat suatu market, kita menyadari akan perlunya budaya antri. karena kita perlu akan pemahaman terhadap how to condition market itu sendiri. Sebelum melakukan sebuah marketing yang baik, terlebih dahulu kita harus melihat sejarah dari market itu sendiri,how of culture yang terbentuk dalam mind set market dan behaviour nya. kita juga harus melihat how of level SDM nya dan apakah yang menjadi alasan mereka sehingga keinginan untuk mendapatkan zakat begitu banyak, karena pada kenyataannya semua itu tidak mendapatkan hasil yang baik bahkan menghasilkan dampak yang luar biasa. jika kebanyakan level market kita terdiri dari low economy people dan yang paling tinggi adalah semi medium economy people. serta yang paling bawah yaitu yang sama sekali tidak didukung dengan level SDM yang high, sehingga ini akan menjadi sulit untuk kelangsungan market dalam memarketingkan budaya antri terutama di Indonesia. Oleh karena itu untuk membangkitkan semangat “antri”,menurut pendapat saya adalah:
    1. kita perlu memberikan pengarahan dalam mengantri(awareness)dengan mengambil sample para pejabat dan government yang turun langsung memberikan contoh dalam kehidupan sehari-hari, itu akan lebih mudah diterima oleh masyarakat.
    2. stlh sadar akan betapa penting budaya antri,selanjutnya kita dpt memberikan pengetahuan tentang seberapa pentingnya budaya antri (knowledge)…Seperti layaknya media pun juga dapat dijadikan sample bagi kita untuk membuat masyarakat kita realize akan pentingnya antri.
    3. setelah mendpt pengetahuan, maka kita akan timbul “rasa ingin” berubah (liking)..
    4. adanya perubahan itulah, kita dapat melihat mana yg lebih banyak digunakan,berbudaya antri atau tetap membudidayakan “tak taat” terhadap budaya antri (preference)…
    5. dengan kita tau market lebih banyak menerapkan budaya antri, maka semua akan berjalan dengan aman, tertib, dan lancar apabila kita semua menjalankan budaya antri di Indonesia tercinta kita ini (preference)…Oleh karena itu diperlukan UU wajib antri. sehingga kebiasaan buruk bangsa kita adalah Kita patuh karena takut dihukum, bukan karena menjadikan hukum sebagai kepatuhan yang harus ditaati.

    wass,,

    Comment by Aulia Irdiani Putri | October 7, 2008 | Reply

  52. ass,,

    Menurut saya, Penerapan budaya antri di Negara kita adalah, dengan cara :
    1.budaya antri diterapkan dimanapun dan kapanpun. Sehingga para konsumen akan terbiasa dan akan muncul kesadaran bahwa budaya antri sangat penting sekali diterapkan agar semua kegiatan dapat berjalan dengan tertib “awareness”. tidak hanya itu, awareness para konsumen dapat timbul jika peraturan untuk selalu antri diterapkan disemua tempat. pejabat tinggi juga mempengaruhi awareness para konsumen untuk selalu menerapkan budaya antri. karena, sebagian konsumen pasti akan berfikir, “buat apa kita menerapkan budaya antri apabila orang yang sepatutnya / seharusnya kita contoh tidak menerapkan budaya antri.”
    2. setelah para konsumen sadar akan pentingnya budaya antri, yang patut dan harus diterapkan dimana saja. Maka para konsumen akan mengetahui “knowledge”, bahwa budaya antri akan menimbulkan ketertiban, kenyaman dan keamana dalam setiap transaksi.
    3. ketika konsumen sudah benar-benar yakin akan penting dan manfaatnya budaya antri, maka konsumen akan terus menerapkan budaya antri dimanapun dan kapanpun para konsumen melakukan transaksi. “liking”
    4. budaya antri akan dijadikan suatu kebiasaan oleh para konsumen “preference”, karena dengan sabar mengantri semua transakasi dapat dilakukan dengan tertib, dan tidak menimbulkan resiko seperti tragedi pasuruan.
    5. setelah para konsumen sadar, tahu, menerapakan dan menjadikan budaya antri sebagai suatu kebiasaan, maka para konsumen akan selau menjadikan budaya antri sebagai suatu hal yang wajib (harus) dilakukan dan diterapkan dimanapun kapanpun ketika para konsumen melakukan transaksi. sehingga budaya antri bukan menjadi hal yang tabu lagi bagi para konsumen, tetapi budaya antri sudah menjadi kebiasaan dan kewajiban agar tercipta ketertiban, saling menghargai dan kesabaran yang selalu tertanam dibenak dan pikiran bangsa kita.

    Comment by Hanny Yovita A. | October 9, 2008 | Reply

  53. aSSaLamu’aLaekum pAk Yudi,.,

    mAaf terLambat,.,sBlm menGeLuarkan unEk2,.dAn mumPung mSh dLm bln sYawaL,.,

    SaYa mEngucapKan minaL aiDzin waLFa’idzin ya pak,,

    sangat miriz rasanya, mendengar banyak korban meninggal hanya karena “human error”. Tragedi tsb bukan saja kRn tDk adanya koordinasi yG baik dari manaJemenNya tetapi juga kRn hiLangnya buDaya anTri dlm masyarakat sekarang ini,.

    imPlementasi dari budaya anTri sekarang ini, hNy trDpt di tmpt2 tRtentu saja. mksud sy dSini tiDak diLakukan seCara merata,
    oLeh Karena itu kita harus mEnerapkan budaya anTri dari diri kita sendiri/masing2konsumen,.(“awareness”) di semua Tempat..
    seHinGga dGn bGtu kiTa aKn mengerTi bhwa buDaya anTri sGt berGuna deMi keLancaran dan keTertiban konsumen semua,.(“knowledge”)
    Kemudian, dGn begitu kita sCr tdk lgsung akan menyukai dan
    seCara sadar meNerapkan buDaYa aNtri dGn sendiRinya,.(“liking” & “preference”)

    Sekian pNdapat dR saya,.,tRm kash PerHatiannya,.,

    WaSSaLamu’aLaekum

    Comment by aZmi maFidah J. | October 11, 2008 | Reply

  54. mnurut saya.. smua orang pasti punya naluri untuk antri,, namun seringnya keadaan yang tidak kondusif & pola pikir “takut g kbagian” telah membuat antri jadi dilupakan,, maka hal2 berikut ini menurut saya dapat membuat “antri” menjadi hal yang penting dan kuat..
    1. tentang awareness,, kesadaran akan budaya antri itu penting harus ditanamkan baik2 saat melakukan hal apapun dimanapun demi kelancaran & keamanan diri sendiri dan orang lain,,
    2. setelah mengetahui awareness,, maka akan muncul knowledge tentang antri,, yaitu antri dijamin selamat,, rapi & nyaman,, bila tidak antri maka yang terjadi adalah kericuhan,, keributan,, kekacauan bahkan kematian (seperti pada tragedy pembagian zakat di Pasuruan).
    3. bila telah memahami knowledge,, selanjutnya pasti timbul liking,, bagaimana mungkin ada yang tidak menyukai keteraturan,, smua pasti akan menyukai hal2 yang teratur dan menimbulkan kenyamanan,,
    4. berasal dari liking,, pastinya antri akan menjadi sbuah kebutuhan, sehingga antri menjadi sesuatu yang preference daripada saling berebutan,,
    5. jika telah mengetahui semua kebaikan dan manfaat dari budaya antri sehingga akan ada buying terhadap budaya antri ini.

    Comment by desiyana | October 13, 2008 | Reply

  55. ass pak…..
    maaf pak krim komenya telat…

    menurut saya budaya antri wajib dan perlu ditekankan kepasa msyarakat. dan itu berlaku disemua kalangan dan tidak membedakan status. baik miskin ataupun kaya wajib membudayakan antri. karena ngara kta merupakan negara yang taat dengan peraturan hukum dan oleh karena itu negara kita wajib membudayakan antri sejak dini.

    selain itu bukan cuman dteanan dan dibertahuan kepada orang ke orang lain tentang budaya antri. naun banya iklan yang sangat keren untuk membuat iklan tentang budaya antriyang selalu mengingatan para rakyat di negri ini untuk selalu membudayakan dan mengutamakan antri untuk setiap aktivitasyang akan dilakukan jika memrlukan antri.

    demikian comment yang dapat saya berikan….
    wass.

    Comment by tria putri oktavia | January 6, 2009 | Reply

  56. Uraian yang luar biasa Pak, cuma ada 1 yang tidak pernah antri di negeri ini, yaitu antri untuk posisi Pemimpin yang Amanah.

    Salam hangat dari Banda Aceh-

    Comment by * Echo S * | January 12, 2009 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: