Y u d i S u t a r s o

Kuliah Manajemen Pemasaran

Marketing Ide: untuk Perilaku Masyarakat AS

Memasarkan ide, adalah salah satu produk yang dapat dipasarkan oleh pemasar. Kita pernah tahu bagaimana ide keluarga berencana sukses dipasarkan di Indonesia, pemasarnya adalah Haryono Suyono, sehingg dengan pemasaran tersebut laju pertumbuhan diINdonesia menurun drastis. Marketing ide juga diterapkan untuk berbagai isu, misalnya pemanasan global, narkoba dan sebagainya. Prinsip pemasarannya serupa dengan berbagai kegiatan pemasaran produk jenis lain, misalnya barang, jasa, orang atau organisasi.

//micah.cowan.name/

KOmpas, 26 JUni 2007, dalam halaman 11, pada Rubrik Kilasan Kawat Sedunia, memberitakan hasil riset tentang salah satu sisi kehidupan masyarakat Amerika Serikat (AS). Beritanya adalah sebagai berikut dibawah ini.

Wahington. Hanya sekitar 4 persen orang dewasa di AS yang masih perawan atau perjaka. Demikian hasil riset Pusat Nasional untuk statistik kesehatan yang dipublikasikan hari Jumat (22/6), dan dikutip Reuters, Minggu (24/6). Riset tersebut melibatkan lebih dari 6000 responden. Berdasarkan hasil surve, sebanyak 95 persen warga AS yang berusia antara 20-59 tahun terlibat dalam berbagai kegiatan seks. SEbagian dari mereka mengaku pertama kali melakukan hubungan seks saat usia belia. Dikalangan orang kulit hitam non hispanik, sebanyak 28 persen mengaku berhubungan seks pertama kali sebelum usia 15 tahun. Dikalangan orang kulit putih jumlahnya sekitar 14 persen. Hasil ini tidak terlalu mengejutkan , tetapi menunjukkan bahwa kesehatan publik di AS rentan.”Kita masih melihat banyak orang dewasa mengaku berhubungan pertama kali ketika masih amat muda” kata Dr. Kathryn Porter dari pusat nasional untuk Statistik Kesehatan. “Ini masalah yang perlu mendapat perhatian sebab perilaku seks yang beresiko dapat menyebarkan penyakit dan menimbulkan kehamilan yang tidak dikehendaki’ katanya. Survei serupa digelar tahun 1999 hingga 2002 menunjukkan hasil senada. Sebanyak 46 persen laki-laki kulit hitam mengaku memiliki pasangan seks sebanyak 15 orang atau lebih seumur mereka. Secara keseluruhan, 17 persen laki-laki dan 10 persen perempuan mengatakan bahwa mereka memiliki dua atau lebih mitra seks pada setahun sebelumnya.(Reuters/bsw).

Dari riset tersebut, coba diskusikan, jika Anda adalah seorang pemasar, apa yang dapat Anda sarankan kepada pemerintah AS, dalam menangani masalah tersebut, khusus hal-hal berkaitan dengan bagaimana memasarkan ide dari isu yang ada dalam berita tersebut. Marketing seperti apa yang perlu dilakukan…..

Selamat mencoba dan selamat belajar.

June 26, 2007 - Posted by | Manajemen Pemasaran

19 Comments »

  1. Memang gaya free sex yang dilakukan remaja di AS seakan menjadi budaya yang membudaya. Mengapa? karena hal ini terus berlangsung dari tahun ke tahun dan sulit untuk dihilangkan dari masyarakat AS tersebut. Memang sulit untuk mengubah budaya suatu masyarakat karena yang diubah itu orang bukannya benda, jadi sangatlah sulit untuk mengubahnya. tetapi apabila dilakukan pemasaran ide anti free sex yang kreatif secara terus menerus mungkin budaya yang negatif tersebut akan berangsur-angsur menghilang.
    Jika saya menjadi pemasar ide dari isu tersebut yang dapat saya sarankan kepada pemerintah AS yaitu :
    1. Mensosialisasikan berbagai dampak penyakit yang timbul misalnya HIV / AIDS atau PMS (Penyakit Menular Seksual) . hal ini dapat disosialisasikan dalam berbagai bentuk misalnya iklan yang menarik, sosialisasi ke beberapa sekolah dan juga ke rumah2.
    2. Menekankan kepada orang tua agar selalu mengawasi tindakan dari anaknya Maksudnya anaknya tersebut harus selalu dibimbing dan dididik sedari kecil pengetahuan tentang seks dan dampak bahaya free sex. dan juga selalu diberikan perhatian yang cukup dan juga penanaman nilai religius harus dimulai dari kecil.
    3. Mengadakan seminar2 yang bertujuan untuk menghimbau remaja2 di AS akan bahaya free sex tersebut.
    Mungkin masih banyak cara yang bisa dilakukan agar free sex itu tidak menjadi budaya di AS.Tapi sekian dulu pendapat saya.
    Terima kasih

    Comment by Lia Dahniar | June 27, 2007 | Reply

  2. Pemasaran global adalah pemasaran yang dilakukan lebih dari satu negara, guna memperoleh keuntungan pemasarn, produksi, riset dan pengembangan serta keuangan yang tidak terjangkau oleh perusahaan yang semata-mata beroperasi di satu negara saja.
    Sebelum memutuskan apakah akan beroperasi secara internasional perusahaan harus memahami secara menyeluruh lingkungan pemasaran internasional, lingkungan perekonomian dunia telah mengalami banyak perubahan, yang dikarenakan perdagangan dan investasi dunia telah berkembang dengan cepat, contohnya Eropa barat, Eropa timur, China, Rusia, dll.
    Satu dari beberapa faktor yang menyeret sebuah perusahaan ke arena internasional adalah para pesaing global yang menyerang pasar domestik perusahaan tersebut dengan menawarkan produk yang lebih baik/harga yang paling rendah, perusahaan domestik tersebut ingin melakukan serangan balik kepada para pesaing tersebut dalam negeri mereka untuk menghambat penggunaan sumber daya mereka.
    Sebelum melangkah keluar negeri perusahaan harus berusaha mendefinisikan tujuan dan kelayakan pemasaran internasional, perusahaan harus memutuskan berapa volume penjualan keluar negeri yang diinginkan, dan juga memilih beberapa negara yang ingin dimasuki.
    Setelah perusahaan memutuskan menjual ke luar negeri, perusahaan harus menentukan cara yang terbaik untuk memilih dengan mengekspor, membentuk usaha patungan, berinvestasi langsung. Perusahaan yang beroperasi di satu atau lebih pasar luar negeri harus memutuskan seberapa banyak, serta harus menyesuaikan bauran pemasaran mereka yang ada sesuai dengan kondisi lokal, apakah menggunakan bauran pemasaran berstandarisasi atau bauran pemasaran yang diadaptasi.
    Perusahaan juga harus mengelola aktifitas pemasaran internasional mereka sekurang-kurangnya dengan juga cara yang berbeda yaitu perusahaan mula-mula mengorganisasi departemen ekspor, membuat divisi internasional, dan akhirnya menjadi organisasi global.
    Pada kasus pertama, pada harian Kompas tanggal 26 Juni 2007, tentang pemanasan global menurut Wakil Menteri Keuangan Malaysia Nor Mohammed Yackop adalah tindakan yang mengkambing hitamkan negara China sebagai negara perusak lingkungan hidup, negara-negara yang merusak lingkungan hidup tersebut adalah Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Jepang. Karena negara China adalah salah satu negara di Asia dengan investasi modal asing terbesar, jadi China juga adalah salah satu negara penyumbang total output energi sebanyak 5,5% dari 15% total energi yang dikonsumsi dunia.
    Menurut saya apa yang dikatakan oleh Chen Feng (Ketua Harian Airlines) dan Masatoshi Wakabayashi (Menteri Lingkungan Hidup Jepang) adalah benar, jangan saling menuduh siapa yang bersalah tapi mengajak seluruh negara yang terlibat dalam pemanasan global untuk bertemu dan mencari solusi agar pemanasan global dapat diatasi, karena setiap karena setiap pengurangan polusi harus melibatkan kesepakatan semua pihak.
    Sedangkan untuk kasus yang kedua, pada harian Kompas tanggal 26 Juni 2007 tentang hasil riset yang dilakukan oleh Pusat Nasional untuk Statistik Kesehatan tentang banyaknya warga AS yang perawan dan perjaka (jumlahnya hanya 4%). Negara AS harus melakukan penyuluhan pada seluruh warganya untuk tidak berhubungan seksual di bawah umur
    20 tahun, jika bisa berhubungan seksual sesudah menikah. Seks bebas juga menimbulakn berbagai penyakit, HIV-AIDS, Siphilis (Raja Singa).
    Jika saya sebagai pemasar, yang akan saya pasarkan adalah kondom (dengan berbagai ukuran, tingkat elastisitas, kenyamanan, serta berbagai rasa buah). Paling tidak akan mengurangi resiko tertular penyakit kelamin , Jadi Lebih Baik Mencegah Daripada Mengobati…….

    Comment by Dion Yanuar Purba | June 27, 2007 | Reply

  3. kehidupan seksual warga amerika serikat memang mengkhawatirkan,dilihat dari riset pusat nasional untuk statistik yang dipublikasikan oleh Reuters,minggu(24,6) menunjukkan bahwa “hanya” 4% warga AS yang masih perawan atau perjaka,hal ini dikarenakan pendidikan seksual yang diberikan di AS sangat minim.ini masalah yang perlu mendapat perhatian karena perilaku sex yang bebas dapat beresiko menyebabkan penyakit dan mengakibatkan kehamilan yang tidak dikehendaki.sebagai seorang pemasar,yang perlu saya sarankan kepada pemerintah AS yaitu
    >memasarkan ide tentang bahaya sex bebas,dengan cara mempublikasikan penyakit2 yang diakibatkan oleh sex bebas,misal lewat TV setiap harinya harus ada peringatan tentang bahaya seks bebas tersebut
    >memberikan pendidikan seksual sejak dini di lingkungan sekolah ataupun di lingkungan keluarga,jadi pihak sekolah dan pihak keluarga secara bersama-sama mengawasi kehidupan remaja,agar kegiatan seks bebas itu dapat dicegah
    >mendirikan pusat rehabilitasi, seperti pusat rehabilitasi narkoba yang kegiatannya diisi dengan kegiatan kerohanian dan penanggulangan seks bebas
    >saran terakhir yaitu membuat organisasi anti seks bebas yang juga harus di dukung oleh pemerintah,kegiatannya harus kongkrit dan jelas menolak segala tindakan yang berbau seks bebas

    Comment by sigid adri saputra | June 27, 2007 | Reply

  4. Pemasaran ide memang tergolong sedikit sukar untuk dipublikasikan dengan efektif,karena dalam kenyataannya pemikiran dari setiap individu adalah bermacam-macam antara satu dengan yang lainnya. Apalagi menganai permasalahan-permasalahan yang bersifat pribadi,pemasaran ide tidak akan cukup hanya dengan mengiklankan saja tapi juga harus terjadi timbal balik antara sipengirim pesan dengan sipenerima pesan yang di sampaikan.
    Berkaitan dengan kasus di atas kita semua tahu bahwa budaya di Amerika memang sangatlah bertolak belakang dengan budaya yang ada disini,mungkin jika suatu pemasaran ide mengenai ketidak setujuan sex bebas di terapkan di sana bukannya tidak mungkin namun hal itu tentu merupakan tindakan yang tidak efektif,menggingat hal2 yang diterapkan di sana memang berbau sex.Mungkin ide yang bisa di terapkan adalah ^bagaimana cara kita untuk meminimalisasikan dampak buruk dari tindakan sex bebas,dengan cara memberikan penyuluhan tentang bagaiman cara yang aman,memberikan motifasi untuk selalu setia hanya pada pasangannya saja,serta memberikan penjelasan tentang bahayanya secara lebih real.
    Bukan hanya di negara orang saja bahkan di negara kita sendiripun juga mulai terpengaruh oleh ha2 yang sifatnya seperti itu.Memang hal ini sudah ada sejak dulu tapi semakin lama semakin kentara saja,Oleh karena itu penerapan ide pemasarannya apabila berada di Inddonesia adalah dengan melibatkan beberapa pihak sepeti peran orang tua,sipelaku,si pembuata ide,serta peran dari pemerintah. Sebab tanpa adanya timbal balik dari faktor di ats maka percuma saja pemasarn ide di terapkan karena sebagus apapun penerapan pemasaran suatu ide tidak akan terlaksana tanpa respon serta timbal balik dari hal-hal di ats !!!!!!!!!

    Comment by Aminatus .s | June 28, 2007 | Reply

  5. Sebagai pemasar, yang akan memasarkan ide untuk menangani kasus perilaku masyarakat AS tentang pergaulan seks bebas di kalangan remaja AS. Hal yang akan saya pakai dalam memasarkan ide adalah mulai menentukan strategi pesan atau ide. Strategi pesan ini dimaksudkan secara langsung berisi tentang manfaat dan hal-hal penting, seperti makna dan tujuan dari penciptaan ide yang ingin disampaikan dalam memasarkan ide produknya. Selain itu, pemasangan iklan secara efektif akan dapat mengkomunikasikan pesan dari ide dengan baik sehingga masyarakat dapat mencerna makna dari penciptaan ide tersebut dan pelaksanaan iklan akan itu dapat menangkap perhatian pasar sasaran. Memang dalam kasus pergaulan di AS sangatlah bebas tanpa adanya nilai moral dan aturan-aturan yang baik dari pemerintah AS. Saya akan mengiklankan ide yang berisi kritikan kepada para remaja AS tentang dampak negatif dati berganti-ganti pasangan. Hal ini memang sangat sulit untuk dilakukan realita. Namun dengan ide iklan ini akan dapat menjadi panduan bagi para remaja agar tidak melakukan seks bebas. Isi dari ide tersebut adalah betapa pentingnya peran orang tua dalam menjaga buah hati mereka dari bahaya AIDS.
    Setelah penciptaan ide pemasaran dibuat, saya sebagai pemasar terlebih dahulu harus mengevaluasi pemasangan iklan secara regular tentang dampak komunikasinya kepada masyarakat. Evaluasi ini sangat berguna karena pihak pemasar dapat mengetahui apakah ide iklan tersebut mampu berkomnikasi dengan baik. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah sarana media. Saya akan memfokuskan pada pemilihan sarana media khusus, karena membutuhkan media lain untuk pencapaian penanganan terhadap kasus ini. Selain media televisi, saya akan memasarkan ide iklan tersebut melalui penyuluhan tentang bahaya seks bebas. Memasarkan ide pada acara telivisi yang umumnya menjadi acara favorit remaja dan tempat-tempat gaul remaja AS.

    Comment by Kiekie Justitiane Abdi | June 29, 2007 | Reply

  6. Semakin bebasnya kehidupan di dunia ini dapat menimbulkan dampak-dampak yang buruk terhadap masa depan individu masing-masing. Semakin tidak terkontrolnya moral maupun perbuatan manusia di dunia ini mempengaruhi gaya bergaul dari masing-masing individu yang tidak ada batasan. Dalam kasus ini di AS moral tidak lagi diperhatikan karena semakin berkembangnya zaman dan semakin mengarah kebobrokan moral. Menurut saya sebaiknya pemerintah AS mencanangkan program seperti yang ada di Indonesia mengenai adanya larangan melakukan hubungan di luar nikah, mencanangkan program KB dan sebagainya. Dan sebaiknya pemerintah AS melakukan pencegahan-pencegahan dan memberikan himbauan akan dampak dari hubungan seks bebas. Sebagai pemasar saya akan memasarkan ide saya dengan harus mengevaluasi pemasangan iklan secara regular tentang dampak komunikasinya kepada masyarakat.Mensosialisasikan berbagai dampak penyakit yang timbul misalnya HIV / AIDS atau PMS (Penyakit Menular Seksual),Mengadakan seminar-seminar yang bertujuan untuk menghimbau para remaja di AS akan bahaya free sex tersebut.

    Comment by Mukhammad Yusuf Efendi | June 29, 2007 | Reply

  7. cara memasarkan ide dari isu tersebut bisa lewat iklan, radio, presentasi khususnya pada anak-anak remaja yaitu di sekolah-sekolah, dan ceramah agama untukmemberitahukan dampak negatif kegiatan seks sebelum menikah. Tapi, mungkin sulit sekali kalau dilaksanakan di Amerika. Karena negara Amerika lingkungan pergaulannya sudah sangat bebas. itupun tergantung dari kesadaran masing-masing individu. Untuk itu jika negara Amerika ingin meningkatkan kesehatan warganya. Amerika harus dengan gencar ( seperti saat penyerbuan ke Irak ) dan melakukan pemasaran ide besar-besaran pada setiap media. memberitahukan akan bahaya seks bebas yaitu HIV tau AIDS. Yang dapat mematikan seperti flu burung. Dan juga AIDS masih belum ada obatnya. Untuk itu warga Amerika harus benar disadarkan dengan pemasaran ide yang tepat sasaran dan dilakukan secra tegas.

    Comment by nurul hikmah | June 30, 2007 | Reply

  8. free sex, gaya hidup seperti mugkin sekarang ini tidak asing atau tidak mengherankan dikalangan orang-orang yang bergaya hidup seperti itu tentunya. tetapi, gaya hidup seperti itu memang sangat rawan buat kehidupan kita. terlebih lagi jika berhubungan sex itu denga berganti-ganti pasangan, bakal banyak penyakit yang mehadang. jika saya sebagai pemasar, jika di negara Amerika mungkin sangat sulit untuk memberitahu bahaya atau efek dari free sex dan berganti-ganti pasangan tersebut6, tapi jika saya sebagai pemasar ide,ide saya adalah sebagai berikut,memberikan pendidikan pengetahuan sex sejak dini di sekolah2, memberikan penyuluhan2 tentang sex tentang bahaya nhidup free sex dan gonta ganti pasangan. mungkin sekarang ini yang lagi gencar2 nya yang dilakukan pemerintah Amerika adalah membagi-bagikan kondom di sekolah- sekolah agar meminimalis dampak buruk dari sex bebas tersebut, hal ini sudah cukup baik namun masih kurang efektif jika tanpa adanya pengetahuan tentang sex yang lebih dalam…

    Comment by yulia kurniawati | July 1, 2007 | Reply

  9. Singkat aja komentar saya,
    1. Tanamkan image No Drugs n No Freesex dan sebarkan slogan itu dimanapun dan kapanpun tanpa ada batas waktu dan tempat, seperti yg sdh dilakukan indonesia pd saat memasarkan KB pada era Bp. Soeharto yg sampai saat ini sdh ada hasilnya walaupun belum maksimal.
    2. Mengadakan kurikulum wajib utk pelajaran sex education disemua level sekolah, termasuk didlamnya ttg bahaya atau sisi negatif dari freesex.
    3. Ini yg paling penting, yaitu memberikan pemantapan aqidah utk memperbaiki akhlak manusia sesuai dgn agama yang paling sempurna yaitu agama islam. Jk aqidah sdh baik maka akhlak jg akan baik, shg semua perilaku yang negatif secara langsung akan hilang.
    4. Men-Stop pemberian kondom cuma2 atau kampanye kondom, krn hal itu akan malah memberi peluang utk melakukan freesex. Dan itu adalah ajaran liberal yang digembor2kan oleh amerika.

    Comment by Winda Trianasari | July 3, 2007 | Reply

  10. Sebetulnya style free sex yang dilakukan mulai dari remaja yang berada dibawah umur 15 tahun itu merupakan menjadi habit dalam hidupnya .kegiatan free sex merupakan kegiatan yang sudah mendarah daging , untuk mengubah kebiasaan ini sangat susah sekali . “Buah yang jatuh tak jauh dari pohonnya” artinya pimpinan atau pemerintah yang menjadi panutan bagi warganya dalam isu yang beredar presidennya ( yang keberapa……………gitu!!!) melakukan hubungannya dengan sekretarisnya sendiri apalagi warganya , warganya meniru apa yang menjadi kebiasaanya yang dia lakukan . Meskipun dari iklan-iklan yang mengutarakan berbahanya hubungan free sex yang selalu berganti-ganti pasangan ( berbagai penyakit yang mungkin timbul adalah HIV,AIDS sudah tidak menjadi momok yang menakutkan bahkan tidak ada penawar untuk menyembuhkan penyakitnya )
    Remaja atau bahkan dibawah usia remaja(23%) mereka mulai untuk melakukannya , mungkin mereka meniru perbuatan kedua orang tuanya meskipun sudah menikah ( sebagian kecil ) ataupun mereka selalu menonton film-film yang berbau porno yang tak kunjung henti-hentinya untuk ditayang kan . Disini mungkin dari peran pemerintah untuk mengatasi hiburan yang berbahaya ini demi dimasa yang akan datang . Dan untuk mengatasinya :
    1. Agama yang merupakan menjadi peran utama untuk dapat mengubah
    habit tersebut . Mungkin bisa untuk menenalkan agama islam dengan
    larangan_laranganya yang sangat keras mis: dalam AL-QUR’AN barang
    siapa yang melakukan hubungan sex sebelum menikah maka dia akan di
    cambuk sebanyak 100 kali dan barang siapa yang melakukan hubungan
    sex setelah menikah maka akan dirajam bagi dirinya yang melakukannya
    2.Pemerintah mengeluarkan somasinya terhadap media_media untuk sedikit
    demi sedikit mengurangi tampilan iklan maupun film yang berbau porno
    dan peran utama juga bagi kedua orang tua dalam mendidik masalah
    sosialnya serta mengubah istilah ” bahwa anak yang sudah berumur +17
    bebas dari segala_galanya”
    mungkin alternatif_alternatif ini dapat membantu masalah yang dihadapi oleh pemerintah AS

    Comment by fariz rachman | July 3, 2007 | Reply

  11. jika saya menjadi seorang pemasar(manajer) saya akan menyarankan kepada pemerintah untuk sebaiknya untuk lebih serimg memberikan penyuluhan dan beberapa pengertian dampak dari pada sex bebas tersebut.
    penanganan kasus tersebut juga bisa di lakukan dengan bebeapa cara yang antara lain.penyuluha tersebut juga dapat di sampaikan dengan bebrapa cara yang antar lain penempelan poster di sekolah-sekolah yang isinya antara lain dampak dri pada sex bebas itu sendiri,selain itu juga dapat dengan penayangan iklan di televisi yang isinya sama pula, selai itu pemerintah juga menyarankan pada para pemuda agar menngunakan kondom saaat melakukan hubungan sex.

    Comment by ikhwani | July 6, 2007 | Reply

  12. Menurut saya, mungkin hal ini wajar bila free sex telah membudaya di masyarakat AS, karena hal ini sudah membudaya, mungkin semakinmajunya perkembangan teknologi membuat bobroknya moral bangsa. Mungkin ini akan membutuhkan waktu yang lumayan lama untuk memberikan pencerahan pada masyarakat AS akan bahaya yang disebabkan oleh tindakan yang dilakukannya yaitu free sex. Jikalau saya menjadi pemasar ide dari isu tersebut yang dapat saya sarankan kepada pemerintah AS yaitu:
    1. Menggalakkan program sex education dikalangan anak muda, sehingga mereka bisa mengetahui akan bahaya yang ditimbulkan dari free sex itu sendiri, yakni dapat terjangkit virus HIV AIDS yang dapat menyebabkan kematian.
    2. Mengadakan seminar-seminar atau acara talk show tentang kesehatan dan sex itu sendiri yang nantinya mungkin dapat memberikan pemahaman pada masyarakat.
    3. Kita mengertahui iklan-iklan di AS kebanyakan menjurus pada kepornoan, maka saya akan membuat penyeleksian iklan sebelum ditayangkan pada televisi maupun media cetak yang lain.
    4. Mensensor film-film porno yang ditayangkan di televisi, kalaupun tetap ingin ditayangkan sebaiknya tidak pada jam yang waktu itu anak-anak masih bangun.
    5. Mengadakan kampanye atau kegiatan sosial yang bertajuk bahaya akan free sex sendiri, yang menyuruh masyarakat terjun langsung dalam acara tersebut, sehingga mereka nbenar-benar mengerti sendiri akan bahaya free sex.
    6. Yang terakhir mungkin diperlukan adanya kesadaran dari setiap individu masing-masing.

    Demikian. Terima kasih.

    Comment by Slamet Budi Waluyo | July 6, 2007 | Reply

  13. sepertinya berhubungan seks dikalangan muda di kawasan AS sudah menjamur dan sampai-sampai sudah menjadi tradisi dikalangan anak muda disana. sebagai bukti pada iklan KOmpas, 26 JUni 2007 disebutkan hanya 4 persen orang dewasa yang masih perawan dan perjaka, bukankah itu merupakan hal yang sangat memperihatinkan. Padahal banyak akibat yang dapat ditimbulkan dari kegiatam-kegiatan yang dilakukan (seks gitu loh). Seperti penyakit HIV AIDS karena seringnya berganti-gantu pasangan seks dan kehamilan yang tidak dinginkan.
    Sebagai seorang pemasar yang pertama kali saya lakukan:
    1. Memberikan pelajaran “sex education” pada masyarakat, khususnnya dikalangan anak muda.
    2. Memberikan contoh yang baik dengan mengurangi film-film yang berbau pornografi dan pornoaksi.
    3. Menghimbau kepada para remaja bila ingin berhubungan seks diluar bnikah gunakan alat kontrasepsi agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diharapkan.
    4. mungkin kesadaran dari setiap individu tetap diperlukan untuk membentengi dirinya masing-masing.
    5. Yang terakhir tetap Waspadalah-Waspadalah.

    Terima Kasih…….

    Comment by yudi kurniawan lastanto | July 7, 2007 | Reply

  14. Free sex yang ada di Amerika Serikat memanglah sangat memprihatinkan, apalagi yang mengalaminya sejak berumur 15 th.Memang lkalau dipikir-pikir tidak ada enaknya melakukan hal tersebut terbukti denagn adanya penyakit HIV/AIDS.
    Jika saya sebagai pemasar, maka saya melakukan langkah-langkah sebagai berikut :
    -Memberikan pengertian mengenai hubungan antar lawan jenis di lingkungan keluarga, sekolah dan adanya berbagai seminar.
    -Tidak menampilkan adegan-adegan yang senonoh baik itu yang ada di televisi melalui iklan, film untuk anak di bawah 21 th.
    -Mempertebal rasa keimanan pada masing-masing individu
    -Peranan masing-masing dengan adanya kesadaran masing-masing individu.

    Comment by Catur April Lia Sari | July 13, 2007 | Reply

  15. Sebagai pemasar, salah satu objektif utama adalah target saya membeli “produk” saya. Di sini, produk yang mau dijual adalah “ide”, dan untuk lebih spesifik lagi produk “ide” yang mau dijual disini sudah masuk kategori yang sangat pribadi, menyangkut kepada masalah “believe” (maaf, maksud saya believe di sini bukan kearah agama / religion).

    Berdasarkan berita di atas, di kalangan masyarakat Amerika “freesex” mungkin bukan lagi hanya sekedar “budaya”. Sangat mungkin, freesex sudah merasuk lebih dalam lagi, sudah menjadi sebuah “kepercayaan”. Sama seperti sebuah agama, penganutnya memegang sebuah kemutlakan yang tidak bisa diganggu gugat yaitu Tuhan itu ada dan Tuhan itu maha kuasa. Bagi “penganut freesex”, kebebasan melakukan hubungan sex adalah sebuah kemutlakan yang tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun. “Bukankah sejak lahir kami diberi hasrat dan dilengkapi dengan perlengkapan yang sempurna untuk memenuhinya. Sex is a gift, not a sin”, mungkin itu menjadi salah satu doktrin mereka.

    Nah, dalam hal ini, saya sendiri – sebagai pemasar – menjadi kesulitan memikirkan produk apa yang ingin saya tawarkan kepada mereka. Pilihan sangat lebar, mulai dari tidak menolak “ajaran” ini (ikuti saja arusnya) hingga berusaha habis-habisan menentang ajaran”.

    Kalau saya seorang pendeta (walaupun saya punya konsep pemasaran) tentu pilihan pertama bukan pilihan saya. Tetapi kalau saya sebagai pemerintah, tentu saya tidak bisa hitam di atas putih begitu saja. Ada banyak ragam orang yang harus saya akomodir (dan… sebentar lagi kan pemilu). Yang pasti, sudah sangat sulit – kalau tidak bisa dikatakan mustahil – untuk menahan laju perkembangan “ajaran” ini di Amerika (dan sangat mungkin juga sedang terjadi di negara kita tercinta).

    Mengingat segala sesuatu yang menyangkut kehidupan sosial-kemasyarakatan yang sudah settle di amerika saat ini, amerika adalah lahan sangat subur untuk tumbuh kembangnya ajaran ini. Lihat saja, hampir semua anak memiliki orang tua yang keduanya bekerja, jumlah anak yang lahir diluar nikah sudah tidak terhitung lagi dan juga sudah tidak menjadi masalah lagi jadi anak di luar nikah, konsep sex vs. lembaga pernikahan juga sudah bergeser jauh, “agama Hollywood” yang sangat hedonis disebar dengan sangat sistematis, dan masih banyak faktor lain lagi yang kalau igin disebut satu persatu tidak akan habis-habisnya. Sudah cukup alasan bagi kita untuk memahami bahwa menjual “freesex itu terlarang karena bla… bla… bla…” adalah upaya jualan produk yang sia-sia.

    Sebagai pemerintah, pilihan yang paling rasional yang bisa saya lakukan adalah berupaya habis-habisan supaya freesex tidak berkembang menjadi kanker, yang menggerogoti “kekuatan aset nasional”. Menentangnya … sungguh sangat tidak rasional.

    Jadi produk yang ingin dijual seharusnya bukan produk “say no to freesex”, tetapi sebuah “produk” yang dirancang untuk mengendalikan penyebaran ajaran freesex, dan juga mengendalikan laju pertumbuhan jumlah penganutnya .

    Jadi produk kita adalah sebuah “ajaran” yang posisinya ditempatkan untuk menggantikan “ajaran freesex” berikut seluruh aktifitasnya.

    Untuk mencapai objektif “menggantikan ajaran freesex” tersebut, secara garis besar “produk” kita akan dikerjakan dengan cara berikut ini:

    Yang pertama dilakukan adalah berusaha mengalihkan perhatian seluruh bangsa ke hal-hal lain (membuat isu “baik-buruknya freesex” ini bukan lagi menjadi pokok pembicaraan nasional). Hal-hal yang lain tersebut dirancang sedemikian rupa untuk secara tidak langsung akan mengisolir – dan kalau mungkin – mengeliminir perilaku freesex terutama yang negatif seperti “berhubungan sex dengan siapa saja, dimana saja dan kapan saja”. Hal-hal lain yang ditawarkan di sini tidak harus hal-hal yang terang-terangan “berseberangan” dengan ide freesex. Semakin target market kita tidak tahu bahwa ide yang kita tawarkan adalah “lawan” dari perilaku mereka yang notabene sangat mereka sukai/nikmati, akan semakin baik bagi objektif produk kita (do not make them your enemy from the very first time). Tulang punggung upaya pertama ini ini adalah mass campaign untuk ide pengalih perhatian yang dilakuan secara powerfull: cepat, menyeluruh dan dengan dosis tinggi.

    Setelah perhatian beralih, upaya selanjutnya lebih pada aktifitas Community Marketing yang didukung dengan PR yang sangat kuat. Dalam hal ini, kehadiran tokoh / sosok panutan yang sangat dihargai oleh komunitas ini menjadi sangat menentukan (politikus rasanya bukanlah kandidat yang layak dipertimbangkan). Ingat, dalam hal ini yang ingin kita jual adalah “new idea” yang harus bisa menggantikan “current believe” mereka. Semua effort harus bisa “memanipulasi pola pikir” bahwa “new idea” adalah pilihan yang jauh lebih baik.

    Jadi untuk menyimpulkan, karakteristik yang paling utama dari produk yang akan dijual ini adalah:

    (1) target market: fokus pada penganut ajaran “freesex”. Tidak perlu bersusah payah lagi memikirkan yang tidak menganut ajaran ini karena jumlah mereka sudah sangat sedikit (4-5%) dan terus berkurang, yang artinya mustahil sudah menahan laju perkembagan ini. Dan kalaupun ada yang bertahan – dalam situasi seperti ini – sudah tentu mereka adalah orang-orang yang sangat berprinsip dalam hidupnya, dan salah satu prinsip mereka adalah “say no to freesex”.

    (1) tidak menentang langsung (frontal) ajaran freesex. Bukan karena alasan pemilu, tetapi memang menentang ajaran freesex ini secara langsung akan sia-sia. Perlu kita ingat, dalam pemasaran salah satu kriteria produk kita haruslah atraktif. “No freesex” … sangat tidak atraktif bagi mereka.

    (2) menawarkan sesuatu ide yang sangat atraktif bagi mereka (disarankan melakukan survei komprehensif di kalangan penganut freesex ini) dan dikemas / di-bundle dengan ide yang tidak sejalan dengan pola perilaku freesex, terutama perilaku yang tidak sehat. Tidak perlu secara terang-terangan mengatakan “play safe please”, tetapi bisa dengan menawarkan berbagai ide dan kegiatan-kegiatan yang membuat mereka “mau tak mau dengan senang hati” menjalani hidup safe sex (the positioning of this product).

    (4) Powerfull Mass campaign di awal untuk create high level sense of urgency untuk ide baru yang ditawarkan (sekali lagi dengan tidak membenturkan ide baru dengan isu freesex dan mempermasalahkan dikotomi baik-buruk freesex) yang dilanjutkan dengan upaya sistematis untuk mendorong terbentuknya komunitas penganut “ide baru”.

    Secara garis besar, demikian menurut saya yang seharusnya dilakukan. Akan tetapi, aktifitas marketing yang lebih rinci akan jauh lebih rumit dan sulit dari yang bisa kita diskusikan di sini.

    Akhir kata, saya sangat senang menemukan blog ini karena komentar-komentar yang diajukan sangat konstruktif.

    Salam,
    Frank J Mattheo
    tfrankmarbun@yahoo.com

    Comment by Frank J Mattheo | July 18, 2007 | Reply

  16. Assalamualaikum wr.wb

    Free seks yang terjadi diluar negeri memang sudah tidak kaget lagi didengar. Karena kehidupannya yang tergolong bebas. Salah satunya adalah orang dewasa di AS. Dari hasil riset banyak warga AS yang melakukan kegiatan seks pada usia belia. Ini sangat disayangkan sekali, karena aset negara terpenting adalah remaja yang berpotensi tinggi. Jika saya sebagai pemasar, yang saya lakukan adalah memberikan seminar bagi orang tua, remaja baik yang sudah melakukan hubungan seks atau belum. Peran orang tua disini sangat penting dalam pertumbuhan anak. Untuk remaja yang belum melakukan sangat penting untuk mengetahui sebab akibat yang bakal terjadi dimasa depan. Untuk remaja yang sudah pernah melakukan hubungan seks supaya sadar dan berhenti melakukan hubungan seks tanpa ada ikatan yang sah.

    Wassalamualaikum wr.wb

    Comment by Wahyu Lestari Ekawati | July 19, 2007 | Reply

  17. gaya hidup free seks yang ada memang terkesan sudah biasa khususnya dinegara-negara maju seperti amerika. bahkan mungkin di amerika kegiatan seperti itu bukan lagi menjadi hal yang baru atau istimewa. justru dalam sebuah film amerika mereka anak muda yang lulus dari sma apabila masih virgin akan dianggap aneh dari teman-temannya dan bahasa kerennya “ga gaul”. karena sudah menjadi budaya dan kebiasaan mungkin akan sangat sulit untuk merubah itu semua. namun dibalik itu semua gaya hidup seperti ini sangat tidak sehat, karena para remaja tidak menyadari dampak yang mereka terima apabila gaya hidup seperti ini, banyak penyakit2 yg akan timbula dari freeseks dan ini yang menurut saya harus lebih disosialisasikan lagi.
    Adapun cara untuk memasarkan ide tersebut adalah dengan memberitahukan bahaya-bahaya yang dapat ditimbulkan dari penyimpangan 2 sosial yang ada sehingga masyarakat akan takut dan dengan mudah mengdopsi ide-ide yang ditawarkan.
    selain itu seharusnya sejak dini masyarakat harus dikenalkan tentang bahaya tersebut dikalangan pelajar atau anak muda dengan begitu mungkin budaya atau kebiasaan yangt jelek itu akan sedikit-demi seditik akan berubah, meskipun tidak mudah.

    Comment by Dian Ayu | July 30, 2007 | Reply

  18. gaya hidup free seks memang sudah membudaya terutama di negara negara maju seperti AS.
    TO THE POINT aja
    sebagai pemasar untuk memasarkan ide dalam menangani kasus free seks di masyarakat As.4% orang dewasa yang virgin /perjaka,prestasi apa reputasi,tapi itu sudah terjadi yang jelas bagaimana kasus ini jangan sampai terulang kembali di masa yang akan datang sehingga reputasi menjadi sebuah prestasi bagi pemerintah AS jika mampu meminalisir kasus free seks seperti ini,karena ini bukan memelihara wibawa melainkan ke egoisan /kebrok brokan suatu negara.
    sebagi orang pemasar saya akan menjual suatu produk unggulan yaitu.
    *pertama saya akan membuat iklan besar besaran tentan bahayanya sex bebas.di bawah umur atau diluar nikah.
    *memberikan penjelasan tentang bahayanya free seks itu.contoh: HIV AIDS,
    kehamilan yang tidak di harapakan,dll.ke sekolah 2 tempat ibadah dll
    *memberikan sangsi2 bagi yang memproduksi film2 yang berbau porno garfi atau mengurangi iklan iklan pencegah kehamilan,seperti kondom.
    * terakhir memberikan penyuluhan kepada orang tua agar tidak terlalu memberikan kebebasan bergaul kepada anak2nya,karena inisemua tergantung dari pendidikan/kasih sayang yang di berikan orang tuanya.

    Comment by toni b.berkata | August 23, 2007 | Reply

  19. Ass.Wr.Wb
    Bapak Yudi Sutarso yang terhormat,
    kalau saya sebagai pemasar negeri AS, saya akan menyarankan kepada pemerintah AS: Adalah bukan masanya lagi mempromosikan kondom kepada masy. luas, karena sudah lama hal tersebut dipromosikan dan bukan merupakan solusi. menurut saya sekarang sudah waktunya mempromosikan hal yang lebih jauh, seperti bagaimana bila anda jadi orangtua anak yang terkena HIV. bgmn perasaan anda, anda akan sangat menyesal di kemudian hari karena tidak mencegahnya di awal terhadap hal2 seperti freesex & penggunaan jarum suntik narkoba. kemudian tahap yang lebih jauh adalah juga memasarkan pentingnya mempelajari agama dengan baik, karena tidak ada agama yang membolehkan orang2 untuk berfree sex. agama merupakan filter terkuat untuk tidak melakukan free sex.
    jadi saya akan memasarkan seperti “remember Your GOD”, atau “What’s Our destination after death”, dan lain sebagainya

    Comment by irvan sulthoni haris | September 24, 2007 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: