Y u d i S u t a r s o

Kuliah Manajemen Pemasaran

Pemasaran strategik

Kita telah mempelajari konsep dasar dalam manajemen pemasaran, anatar lain kebutuhan, keinginan, kepuasan, nilai pelanggan, relationship dan sebagainya. Berbagai jenis produk yang bisa dikelola dalam manajemen pemasaran juga telah kita ketahui. Pasar sebagai hal penting dimana kegiatan pemasaran didedikasikan juga secara gamblang telah di pelajari.

Kunci pembuka mempelajari mata kuliah ini sudah diberikan, sehingga peserta mata kuliah ini agar  mulai menggunakan kunci itu untuk mempelajari buku yang telah ditentukan. Pemahaman prinsip dasar yang telah disampaikan hendaknya selalu dibawa dan diingat ketika membaca buku. Buku yang telah ditentukan hendaknya dibaca secara cepat dan ambil sebanyak mungkin inti sari yang ada didalam buku, mendiskusikan dengan peserta lain agar mendapat pengertian yang sempurna.

Minggu depan kelas akan membahas mengenai bagaimana strategik planning dilakukan dalam perusahaan, dan bagaimana peranan manajemen pemasaran. Silahkan peserta untuk membaca tuntas bab 2 buku kotler dan armstrong 2006.

Tugas untuk meinggu depan adalah sebagai berikut :

1.  Misi  itu apa, dan  bagaimana peranan pemasaran dalam penentuan misi perusahaan, carilah contoh misi perusahaan di internet. Dan bahaslah apakah misi tersebut dari sisi pemasaran.

2. Bukalah web http://www.starbucks.com, pelajari isinya dan jelaskan bagaimana perusahaan ini menjalankan misinya, dalam kegiatan sehari-hari.

Kelompok yang maju meinggu depan adalah kelompok 3. Pergunakan power poin sebagai media menjelaskan. Kelompok lain tetap membuat dalam bentuk softcopy, dan diemail ke ysutarso@gmail.com. Tidak ada tugas yang harus di print out.

Selamat belajar.

March 22, 2007 - Posted by | Manajemen Pemasaran

6 Comments »

  1. pak,MP kelas G abis presentasi kok terasa ngebosenin?

    Comment by lia dahniar | March 31, 2007 | Reply

  2. Manajemen Pemasaran
    Kelas G
    Perencanaan strategik melibatkan pengembangan strategi kelangsungan hidup dan pertumbuhan jangka panjang. Perencanaan tersebut terdiri dari : menetapkan misi perusahaan, menyusun tujuan dan sasaran, mendesain portofolio bisnis, dan mengembangkan rencana fungsional.

    Comment by wahyu lestari ekawati | April 1, 2007 | Reply

  3. Pemasaran memperhatikan kebutuhan pelanggan dan kemampuan perusahaan untuk memuaskan kebutuhan. Faktor-faktor yang sama tersebut memandu tujuan dan misi perusahaan secara keseluruhan. Pemasaran memainkan peran kunci dalam perencanaan stategik dalam perusahaandalam beberapa hal :
    1. Pemasaran memberikan filosofi pemandu konsep pemasaran yang menyarankan agar strategi perusahaan harus berpusat pada memuaskan kebutuhan kelompok-kelompok pelanggan yang penting.
    2. Pemasarn memberikan masukan kepada perencana strategik untuk membantu mengidentifikasi peluang pasar yang menarik dan menilai potensi perusahaan untuk memanfaatkannya.
    Akhirnya tiap-tiap unit unit bisnis departemen pemasaran mendesain strategi untuk menanggapi tujuan tiap-tiap unit. Setelah tujuan-tujuan tersebut ditetapkan departemen pemasaran melaksanakan rencana itu secara menguntungkan.

    Comment by Dion Yanuar Purba | June 4, 2007 | Reply

  4. Banjarbaru, Kalimantan Selatan, 5 Juli 2008

    Matinya Ilmu Administrasi dan Manajemen
    (Satu Sebab Krisis Indonesia)
    Oleh Qinimain Zain

    FEELING IS BELIEVING. C(OMPETENCY) = I(nstrument) . s(cience). m(otivation of Maslow-Zain) (Hukum XV Total Qinimain Zain).

    INDONESIA, sejak ambruk krisis Mei 1998 kehidupan ekonomi masyarakat terasa tetap buruk saja. Lalu, mengapa demikian sulit memahami dan mengatasi krisis ini?

    Sebab suatu masalah selalu kompleks, namun selalu ada beberapa akar masalah utamanya. Dan, saya merumuskan (2000) bahwa kemampuan usaha seseorang dan organisasi (juga perusahaan, departemen, dan sebuah negara) memahami dan mengatasi krisis apa pun adalah paduan kualitas nilai relatif dari motivasi, alat (teknologi) dan (sistem) ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Di sini, hanya menyoroti salah satunya, yaitu ilmu pengetahuan, sistem ilmu pengetahuan. Pokok bahasan itu demikian penting, yang dapat diketahui dalam pembicaraan apa pun, selalu dikatakan dan ditekankan dalam berbagai forum atau kesempatan membahas apa pun bahwa untuk mengelola apa pun agar baik dan obyektif harus berdasar pada sebuah sistem, sistem ilmu pengetahuan. Baik untuk usaha khusus bidang pertanian, manufaktur, teknik, keuangan, pemasaran, pelayanan, komputerisasi, penelitian, sumber daya manusia dan kreativitas, atau lebih luas bidang hukum, ekonomi, politik, budaya, pertahanan, keamanan dan pendidikan. Kemudian, apa definisi sesungguhnya sebuah sistem, sistem ilmu pengetahuan itu? Menjawabnya mau tidak mau menelusur arti ilmu pengetahuan itu sendiri.

    Ilmu pengetahuan atau science berasal dari kata Latin scientia berarti pengetahuan, berasal dari kata kerja scire artinya mempelajari atau mengetahui (to learn, to know). Sampai abad XVII, kata science diartikan sebagai apa saja yang harus dipelajari oleh seseorang misalnya menjahit atau menunggang kuda. Kemudian, setelah abad XVII, pengertian diperhalus mengacu pada segenap pengetahuan yang teratur (systematic knowledge). Kemudian dari pengertian science sebagai segenap pengetahuan yang teratur lahir cakupan sebagai ilmu eksakta atau alami (natural science) (The Liang Gie, 2001), sedang (ilmu) pengetahuan sosial paradigma lama krisis karena belum memenuhi syarat ilmiah sebuah ilmu pengetahuan. Dan, bukti nyata masalah, ini kutipan beberapa buku pegangan belajar dan mengajar universitas besar (yang malah dicetak berulang-ulang):

    Contoh, “umumnya dan terutama dalam ilmu-ilmu eksakta dianggap bahwa ilmu pengetahuan disusun dan diatur sekitar hukum-hukum umum yang telah dibuktikan kebenarannya secara empiris (berdasarkan pengalaman). Menemukan hukum-hukum ilmiah inilah yang merupakan tujuan dari penelitian ilmiah. Kalau definisi yang tersebut di atas dipakai sebagai patokan, maka ilmu politik serta ilmu-ilmu sosial lainnya tidak atau belum memenuhi syarat, oleh karena sampai sekarang belum menemukan hukum-hukum ilmiah itu” (Miriam Budiarjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik, 1982:4, PT Gramedia, cetakan VII, Jakarta). Juga, “diskusi secara tertulis dalam bidang manajemen, baru dimulai tahun 1900. Sebelumnya, hampir dapat dikatakan belum ada kupasan-kupasan secara tertulis dibidang manajemen. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa manajemen sebagai bidang ilmu pengetahuan, merupakan suatu ilmu pengetahuan yang masih muda. Keadaan demikian ini menyebabkan masih ada orang yang segan mengakuinya sebagai ilmu pengetahuan” (M. Manullang, Dasar-Dasar Manajemen, 2005:19, Gajah Mada University Press, cetakan kedelapan belas, Yogyakarta).
    Kemudian, “ilmu pengetahuan memiliki beberapa tahap perkembangannya yaitu tahap klasifikasi, lalu tahap komparasi dan kemudian tahap kuantifikasi. Tahap Kuantifikasi, yaitu tahap di mana ilmu pengetahuan tersebut dalam tahap memperhitungkan kematangannya. Dalam tahap ini sudah dapat diukur keberadaannya baik secara kuantitas maupun secara kualitas. Hanya saja ilmu-ilmu sosial umumnya terbelakang relatif dan sulit diukur dibanding dengan ilmu-ilmu eksakta, karena sampai saat ini baru sosiologi yang mengukuhkan keberadaannya ada tahap ini” (Inu Kencana Syafiie, Pengantar Ilmu Pemerintahan, 2005:18-19, PT Refika Aditama, cetakan ketiga, Bandung).

    Lebih jauh, Sondang P. Siagian dalam Filsafat Administrasi (1990:23-25, cetakan ke-21, Jakarta), sangat jelas menggambarkan fenomena ini dalam tahap perkembangan (pertama sampai empat) ilmu administrasi dan manajemen, yang disempurnakan dengan (r)evolusi paradigma TOTAL QINIMAIN ZAIN (TQZ): The Strategic-Tactic-Technique Millennium III Conceptual Framework for Sustainable Superiority, TQZ Administration and Management Scientific System of Science (2000): Pertama, TQO Tahap Survival (1886-1930). Lahirnya ilmu administrasi dan manajemen karena tahun itu lahir gerakan manajemen ilmiah. Para ahli menspesialisasikan diri bidang ini berjuang diakui sebagai cabang ilmu pengetahuan. Kedua, TQC Tahap Consolidation (1930-1945). Tahap ini dilakukan penyempurnaan prinsip sehingga kebenarannya tidak terbantah. Gelar sarjana bidang ini diberikan lembaga pendidikan tinggi. Ketiga, TQS Tahap Human Relation (1945-1959). Tahap ini dirumuskan prinsip yang teruji kebenarannya, perhatian beralih pada faktor manusia serta hubungan formal dan informal di tingkat organisasi. Keempat, TQI Tahap Behavioral (1959-2000). Tahap ini peran tingkah-laku manusia mencapai tujuan menentukan dan penelitian dipusatkan dalam hal kerja. Kemudian, Sondang P. Siagian menduga, tahap ini berakhir dan ilmu administrasi dan manajemen akan memasuki tahap matematika, didasarkan gejala penemuan alat modern komputer dalam pengolahan data. (Yang ternyata benar dan saya penuhi, meski penekanan pada sistem ilmiah ilmu pengetahuan, bukan komputer). Kelima, TQT Tahap Scientific System (2000-Sekarang). Tahap setelah tercapai ilmu sosial (tercakup pula administrasi dan manajemen) secara sistem ilmiah dengan ditetapkan kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukumnya, (sehingga ilmu pengetahuan sosial sejajar dengan ilmu pengetahuan eksakta). (Contoh, dalam ilmu pengetahuan sosial paradigma baru milenium III, saya tetapkan satuan besaran pokok Z(ain) atau Sempurna, Q(uality) atau Kualitas dan D(ay) atau Hari Kerja – sistem ZQD, padanan m(eter), k(ilogram) dan s(econd/detik) ilmu pengetahuan eksakta – sistem mks. Paradigma (ilmu) pengetahuan sosial lama hanya ada skala Rensis A Likert, itu pun tanpa satuan). (Definisi klasik ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur. Paradigma baru, TQZ ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur membentuk kaitan terpadu dari kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum yang rasional untuk tujuan tertentu).

    Bandingkan, fenomena serupa juga terjadi saat (ilmu) pengetahuan eksakta krisis paradigma. Lihat keluhan Nicolas Copernicus dalam The Copernican Revolution (1957:138), Albert Einstein dalam Albert Einstein: Philosopher-Scientist (1949:45), atau Wolfgang Pauli dalam A Memorial Volume to Wolfgang Pauli (1960:22, 25-26).
    Inilah salah satu akar masalah krisis Indonesia (juga seluruh manusia untuk memahami kehidupan dan semesta). Paradigma lama (ilmu) pengetahuan sosial mengalami krisis (matinya ilmu administrasi dan manajemen). Artiya, adalah tidak mungkin seseorang dan organisasi (termasuk perusahaan, departemen, dan sebuah negara) pun mampu memahami, mengatasi, dan menjelaskan sebuah fenomena krisis usaha apa pun tanpa kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum, mendukung sistem-(ilmu pengetahuan)nya.

    PEKERJAAN dengan tangan telanjang maupun dengan nalar, jika dibiarkan tanpa alat bantu, membuat manusia tidak bisa berbuat banyak (Francis Bacon).

    BAGAIMANA strategi Anda?

    *) Ahli strategi, tinggal di Banjarbaru – Kalsel, email: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com).

    Comment by Qinimain Zain | July 6, 2008 | Reply

  5. Strategi Pemasaran yang efektif dan efisien saat ini yaitu strategi 4 3 3 atau strategi ofensif (menyerang). jadi kita perlu melakukan yang namanya jemput bola untuk menjadikan bola tersebut sebagai penentu kemenagan kita (goal). wassalan

    Comment by manumpak siahaan | October 12, 2009 | Reply

  6. untuk refferensi buku manajemen pemasaran apa saja pak? saya sekarang sedang mendalami Ilmu pemasaran

    trims

    Comment by eko marwanto | April 21, 2011 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: