Sekarang Kita Bisa Tahu Harga Jasa Kredit Bank !
Kebijakan harga bagi bank, seperti pada produk lain, merupakan sejumlah uang yang dibayar nasabah untuk mendapatkan layanan bank, baik untuk funding product, maupun landing product. Kita mesti bayar biaya administrasi kalau kita menabung, bayar selisih kurs bila beli uang asing, juga bayar biaya tertentu jika ingin dapat jasa SDB. Hampir semua biaya untuk produk tersebut, kita bisa tahu dengan mudah. Kita tahu dari brosur, iklan atau melalui websitenya.
Namun, dulu, tidak demikian halnya dengan harga untuk sebagian jenis jasa kredit. Hampir tidak ada informasi yang bisa kita dapat tentang berapa harga jasa kredit, sekalipun hanya perkiraan, kecuali kita bertanya kepada bank langsung. Namun saat ini, dengan keluarnya SK No. 13/5/DPNP pada 8 Februari 2011 dari Bank Indonesia, bank harus mengumumkan harga jasa kreditnya. Pertimbangan Bank Indonesia adalah “Pemilihan produk Bank oleh nasabah pada umumnya didasarkan pada pertimbangan mengenai manfaat, biaya, dan risiko dari produk yang ditawarkan oleh Bank tersebut. Hal ini menjadi sangat relevan khususnya untuk produk Bank berupa kredit mengingat kredit merupakan salah satu produk utama perbankan yang dimanfaatkan oleh masyarakat luas. Oleh karena itu, transparansi informasi mengenai Suku Bunga Dasar Kredit (prime lending rate), selanjutnya disebut sebagai SBDK, sangat diperlukan untuk memberikan kejelasan kepada nasabah”
Yang menjadi perhatian kita adalah mengapa harga jasa perbankan untuk jasa kredit, dulu tidak diumumkan oleh bank, dan baru diumumkan setelah ada kewajiban dari Bank Indonesia. Apa manfaat dan kerugian bank mengumumkan harga jasa kredit, seperti harga untuk produk lain dari bank. Bagaimana pendapat Anda?
Fenomena Harga Tiket Air Asia
Dunia penerbangan berkembang secara pesat tidak saja di Indonesia, namun juga di Asia dan Dunia. Maskapai penerbangan, sebagai provider jasa penerbangan juga mengalami peningkatan kapasitas. KLM, Singapore Airlines, Malaysia Airlines, Cathay Pacific dan sebagainya adalah contoh maskapai penerbangan yang telah mapan malayani pelanggan terbang ke berbagai tempat disunia.
Bagi penumpang wilayah Asia, munculnya Air Asia, cukup memberikan alternatif menarik oleh karena berbeda penawarannya dibanding dengan maskapai penerbangan sebelumnya. Dengan taglinenya “now everyone can fly” , Air Asia menawarkan harga yang cukup murah, dimana harga rata-rata dibawah maskapai lain, dan jika beruntung pelanggan dapat mendapatkan harga yang sangat murah. Bagaimana rute Surabaya-Kuala Lumpur dapat dengan harga tiket Rp.80.000,-.Kita bisa angkat topi bukan saja dengan bagaimana Air Aisa bisa melakukan penerapan harga murah, namun bagaimana kreatifitas penerapan harga dilakukan. Bagaimana strategi harga produk mix mereka, seperti selain manetapkan dengan produk line pricing, juga ada optional product pricing, captive product pricing dan product bundle pricing. Hal yang tidak pernah dilakukan di maskapai penerbangan mapan. Bagaimana Air asia juga menggunakan strategi penyesuaian harga melalui diskon (discount pricing), psychological pricing, maupun promotional pricing dan dynamic pricing.
Yang jelas, oleh karena berbagai strategi harga tersebut penumpang diuntungkan dan tentu perusahaan demikian juga. Ternyata menjual produk penerbangan bisa memanfaatkan kreatifitas harga sebagai faktor kesuksesan. Bagaimana pendapat anda?
Promosi dan Kepentingan Publik
Promosi bagi pemasar adalah kegiatan penting untuk meningkatkan kesadaran, ketertarikan, minat dan pembelian dari calon pembeli terhadap produk yang dijual. Saat ini, tidak hanya perusahaan yang mecari untung saja yang melakukan kegiatan promosi, namun organisasi non profitpun gencar melakukannya. Promosi bukan juga hanya monopoli perusahaan besar, namun usaha kecilpun juga melakukannya.
Sebagai aktivitas manajemen, pemasar juga perlu memperhatikan kinerja efektif dan efisien dari kegiatan promosinya. Sehingga, pemasar selalu memikirkan berapa dana yang akan dikeluarkan untuk kegiatan promosi, bagaimana mendapatkan manfaat sebesar-besarnya atau bagaimana meningkatkan hasil semaksimal mungkin. Atas prinsip ini, pemasar sering menggunakan media promosi yang semurah-murahnya bahkan kadang berfikir kalau perlu tidak membayar. Kalau ada yang tidak perlu bayar, mengapa memilih yang membayar. Tidak hanya perusahaan besar kadang berprinsip demikian namun usaha kecilpun juga ada yang berfikir demikian.
Kita perlu memikirkan bagaimana tren dan gejala promosi di lingkungan sekitar kita utamanya yang berada di ruang-ruang publik, sejauh mana pemasar telah memikirkan kinerja manajamen mereka namun pada saat yang sama memikirkan kepentingan publik. Akan bijaksana jika mereka melihat pemangku kepentingan, utamanya publik, dari bisnis mereka dan memperlakukan dalam proporsi yang adil, seperti halnya mereka melihat pelanggan mereka. Bukankah mereka, publik, sebenarnya adalah pelanggan jangka panjang mereka?
