Tragedi Pasuruan dan marketing ide “antri”
Beberapa waktu yang lalu kita menyaksikan tragedi pembagian zakat di Pasuruan yang menelan korban 21 orang. Tragedi bermula dari keinginan untuk membagi zakat secara langsung kepada kaum miskin, dan berakhir dengan kerumunan masyarakat yang berharap mendapatkan berkah zakat yang berujung berdesakan, ingin segera mendapat dan oleh karenanya ada yang meninggal karena keinjak-injak antrian. Berbagai ungkapan simpati berdatangan dari tingkatan lokal hingga kepala negara, berita meluas hingga ke manca negara. Ada yang besimpati, lalu ada pula yang mengkritik tentang pembagian zakat. Mengapa dibagi langsung, bukankan ada pihak yang bisa membantu pendistribusian zakat.
Kita bisa saja melihat hal tersebut dari bergai sudut pandang, namun bagi kelas kita, melihat kerumunan sebagaimana dilansir antara dalam situsnya, kita lalu berfikir tentang kebiasaan antri di negari ini. Tidak untuk menyalahkan mereka yang tidak antri dengan tertib pada saat pembagian zakat, antau panitia yang tidak bisa mengatur antrian, namun lebih sebagai sarana untuk belajar dari pengalaman. Bukankan pengalaman adalah guru yang baik.
Antri bagi kita, seringkali belum membudaya dengan baik. Di terminal, di bioskop, atau bahkan di kampus, dijalan raya, kadang budaya ini tidak dijunjung. Masing-masing orang berfikirnya “kalau nggak cepat tidak dapat”, sehingga cepat adalah kunci untuk mendapat. Padahal kadang kita tahu bahwa semua akan dapat, bahkan kalaupun dijamin semua dapat antri juga belum tentu berjalan baik. Memang ada beberapa tempat yang sudah bisa menerapkan antri dengan benar.
Kita perlu memikirkan, bagaimana memasarkan ide tentang budaya antri di tempat kita. Di kampus, diloket atau dimanapun. Agar masyarakat memahami bahwa antri akan membuat semua lancar, semua selamat, adil dan menyenangkan. Dilihat lebih enak dan sepertinya tidak menguras tenaga. Bagaimana agar gaung ide ini bisa masif dan mampu mempersuasi publik, sehingga tingkat awareness, knowledge, liking, preference hingga “buy” atas ide antri ini menjadi mantap. Bukankah kita akan bangga jika bangsa kita terkenal tertib antri.
