“Terkenal dan Tercemar”: PR gaya pemerintah.
Kita sering disuguhi dengan Negative Public Relation di media-media Nasional oleh beberapa pelaku baik swasta maupun pemerintah. Negatif PR adalah pemberitaan yang tidak mendambah citra institusi tambah positif, tapi membuat image menjadi tambah negatif. Atau dengan kata lain pemberitaan-pemberitaan yang membikin “terkenal tapi tercemar”. Terkenal dimana-mana dan tercemar pula dimana-mana.
Contoh baiknya adalah kasus lokal sikap pemerintah daerah yang tidak kompak dalam kaitan dengan Cito di Surabaya (Jawa Pos 3 Juli 2007). Atau dalam kaitan dengan tidak kompaknya pemerintah dalam kaitan dengan Tarian Cakalele veri RMS, yang diberitakan di Jawa pos Group, 2 Juli 2007 dengan judul “BIN salahkan Polri’.
PR-ing gaya “salah menyalahkan” sepertinya jadi kebiasaan yang mungkin nggak sengaja. Bagi pemerintah mungkin itu karena lemahkan penanganan kehumasan dalam kaitan dengan isu-isu “berbahaya” bagi citra mereka. Disisi lain kelemahan ini sering menjadi santapan media-media juga, oleh karena model pemberitaan macam ini lebih seru dan mungkin dianggap “lebih laku”. Dan bisa jadi karena publik juga memang suka berita yang gaya penulisannya seperti itu. Kompleks jadinya.
Yang jelas pemberitaan macam ini akan merugikan citra pemerintah. Pemerintah akan menjadi terkenal dan sekaligus tercemar.
Jika Anda jadi pemasar (yang sudah pasti mencintai negeri ini, negeri dimana kita dilahirkan, termasuk pemerintahnya) apa yang sebaiknya dilakukan oleh pemerintah dalam kaitan dengan hal diatas, dan bagaimana agar tidak menjadi terkenal sekaligus tercemar. Untuk semua saja, khususnya peserta manajemen pemasaran dan manajemen pemasaran lanjutan silahkan berdiskusi. Peserta yang dari manajemen pemasaran tunjukkan kehebohanmu, dan untuk peserta manajemen pemasaran lanjutan tunjukkan kehebatanmu. Kalian memang heboh dan hebaat….
Selamat bekerja dan belajar.
